Entry: Kedewasaan Mahasiswa dalam Menjawab Kuesioner Tuesday, May 23, 2006



Dalam suatu pertemuan, salah seorang kolega dosen mengeluhkan hasil kuesioner kuliah yang diasuhnya. Salah satu pertanyaan persetujuan dalam kuesioner, yaitu apakah dosen pernah mewakilkan kuliahnya pada orang lain, dijawab ragu-ragu. Padahal sudah pasti tidak ada muka lain selain dosen tersebut yang muncul mengajar dalam matakuliah itu selama satu semester penuh. Pertanyaan persetujuan mengenai apakah pemberian nilai melalui evaluasi dilakukan lebih dari satu kali dijawab tidak setuju oleh mahasiswanya. Kenyataannya kuliah itu dirancang sejak awal dengan sejumlah evaluasi yaitu UTS1, UTS2, UAS, ditambah dengan Kuis dan PR. Mengapa pertanyaan mengenai suatu kenyataan yang sudah pasti harus dijawab ragu-ragu atau malah bertentangan dengan kenyataan?

 

Kontroversi tentang manfaat kuesioner sebagai feedback dari mahasiswa untuk menilai bagaimana kinerja dosen dalam mengelola perkuliahan sudah berlangsung sejak lama. Alasan kesetujuan diadakan kuesioner ini sudah jelas, yaitu untuk mengetahui seberapa besar usaha yang dilakukan dosen di mata mahasiswa. Nilai akhir mahasiswa tidak cukup untuk melihat hasil kinerja dosen. Akan tetapi, banyak dosen yang merasa tidak berguna memberi peluang kepada mahasiswa untuk menilai dosen, karena penilaian akan sangat subyektif, sangat bergantung terhadap faktor kemampuan dan usaha mahasiswa sendiri dalam mengikuti perkuliahan ini. Contohnya, mahasiswa yang memang malas belajar dan memakai waktunya untuk keperluan lain akan memberi penilaian jelek, seperti cara dosen menerangkan tidak enak sama sekali, dosen tidak punya persiapan, dosen tidak melakukan evaluasi selain dari ujian, dan lain-lain.

 

Sejak awal penulis berpendapat sama dengan golongan yang pertama, yaitu mempercayai bahwa masukan dari mahasiswa juga diperlukan untuk memperbaiki proses perkuliahan. Namun  kadang-kadang kita belum bisa memberi kepercayaan penuh bahwa mahasiswa akan berkata jujur. Oleh karena itu pengisian kuesioner dapat menjadi proses pemberlajaran mahasiswa untuk menjadi orang dewasa, yaitu yang dapat mempertanggungjawabkan  apa saja yang dia lakukan. Yang perlu dimiliki mahasiswa untuk dapat menjawab kuesioner dengan bertanggung jawab adalah dapat mengukur seberapa besar usaha dosen yang sudah dilakukan untuk kelasnya terlepas dari seberapa besar usaha yang sudah ia lakukan untuk mengikuti proses perkuliahan dengan benar.

 

Seorang mahasiswa harus dapat mengukur  usaha maksimal dosen yang mengajar suatu matakuliah, misalnya dengan adanya persiapan slide setiap kuliah, memberi PR dan kuis, memberi feedback terhadap soal-soal ujian, memberi responsi soal-soal, memberi kesempatan pada mahasiswa untuk bertanya, dan sebagainya. Namun kebetulan keadaan sang mahasiswa sendiri yang tidak mendukung, misalnya terlalu banyak menggunakan waktu untuk bermain dengan teman, sakit selama beberapa waktu, tidak sempat mengerjakan PR, tidak pernah belajar sebelum kuliah, dan sebagainya. Dalam kuesioner, mahasiswa yang dewasa akan mengatakan sebenarnya yaitu usaha dosen sudah maksimal. Sama halnya apabila dosen sama sekali tidak pernah memberi kuis dan PR, jarang memberi kuliah, tidak memberi kesempatan untuk bertanya setiap kuliah dan sebagainya, namun karena sang mahasiswa dapat belajar mandiri di rumah dan memperoleh nilai yang baik, ia harus mengatakan bahwa manajemen pengajaran dosennya memang buruk.

 

Untuk memilih antara menjadi dewasa atau tidak, mahasiswa harus diberi pengertian bahwa hasil kuesioner ini sangat berarti dalam meningkatkan kualitas proses perkuliahan, apabila kepercayaan terhadap hasil kuesioner tinggi. Dengan demikian, apabila mahasiswa memilih untuk tidak berkata jujur, dengan kata lain tidak dewasa, dalam menajwab pertanyaan, maka pengadaan kuesioner adalah sia-sia belaka, dan proses perkuliahan tidak dapat meningkat kualitasnya dengan baik. Secara keseluruhan, system perkuliahan akan dirugikan dengan tidak dewasanya mahasiswa.

 

Untuk mengetahui bahwa mahasiswa sudah dewasa atau belum, kita dapat mencek jawaban dari pertanyaan yang terkuantifikasi dengan jelas. Misalnya jumlah evaluasi yang dilakukan dosen untuk menilai mahasiswa, jumlah kehadiran dosen dan sebagainya. Untuk hal-hal yang bersifat kualitatif, seperti kemampuan dosen untuk menyampaikan materi dan cara mengajar, memang tidak dapat dipakai sebagai alat pengecekan.

 

Berikut ini adalah hasil kuesioner dari kuliah yang penulis asuh. Ada sebanyak 37 mahasiswa yang mengisi kuesioner dari 42 nama yang terdaftar. Pertanyaan kuesioner yang diajukan adalah sebagai berikut:

A. Kemampuan Dosen                                                                                           

1. Dosen menguasai materi perkuliahan dengan baik.                                               

2. Dosen berkomunikasi/menyampaikan kuliah dengan baik.                                    

B. Komitmen Dosen                                                                                               

3. Dosen selalu hadir dan menggunakan waktu kuliah dengan baik

4. Dosen tidak mewakilkan kepada orang lain atau mengganti jadwal kuliah

C. Sikap Dosen                                                                                                      

5. Dosen mempersiapkan kuliah dengan baik.                                                          

6. Dosen bersikap responsif, bersedia berdiskusi, dan memberi umpan balik

D. Penyelenggaraan Kuliah                                                                                     

7. Dosen menjelaskan tujuan, rencana materi kuliah, dan buku acuan yang bermanfaat

8. Beban kuliah yang diberikan sesuai dengan SKS yang dialokasikan.

9. Pemberian nilai melalui evaluasi yang dilakukan lebih dari satu kali.

E. Manfaat/Hasil Kuliah                                                                                          

10. Anda menguasai/mengerti materi kuliah setelah mengikuti kuliah ini.

F. Kehadiran Mahasiswa                                                                                        

11. Tingkat kehadiran anda dalam kuliah ini tinggi                                                    

 

Pilihan jawaban yang disediakan adalah sebagai berikut:

1. Setuju dengan pendapat tersebut                                                                          

2. Cenderung setuju dengan pendapat tersebut                                                          

3. Ragu-ragu antara setuju dan tidak setuju                                                               

4. Kurang setuju dengan pendapat tersebut                                                               

5. Tidak setuju sama sekali dengan pendapat tersebut                                               

 

Sebelum mengetahui hasil kuesioner, penulis ingin menjawab sendiri untuk menganalisis kemampuan diri sendiri. Pertanyaan yang dapat dijawab 1 dengan pasti adalah pertanyaan 4, 7, 9, yaitu tidak pernah ada dosen pengganti, adanya tujuan, rencana dan buku acuan yang jelas dan alat evaluasi lebih dari satu yaitu Kuis, PR, UTS1, UTS2 dan UAS. Jawaban Kuis dan PR diketik dengan rapi dan dicantumkan dalam website sehingga mahasiswa dapat mengaksesnya kapan saja.

 

Pertanyaan 1 dan 2 bersifat kualitatif, penulis merasa akan memperoleh jawaban 1 atau 2. Untuk pertanyaan 3, penulis mengakui meliburkan 2 x 1 jam kuliah, namun hal ini untuk menyamakan jumlah pertemuan untuk kelas lain yang kebetulan banyak libur nasional pada jadwal kuliahnya. Kelas ini adalah satu bagian dari kelas parallel sehingga kesamaan banyaknya materi yang diajarkan sangat diperlukan.

 

Pertanyaan 6 dapat dijawab 1 atau 2 karena penulis merasa sudah memberi kesempatan bertanya dengan seluas-luasnya. Bahkan ada suatu peristiwa dalam responsi di mana seorang mahasiswa minta untuk sekali lagi diterangkan nomor soal sebelumnya, padahal penulis sedang menerangkan soal selanjutnya. Gemuruh mahasiswa mencemooh mahasiswa tersebut, namun penulis tidak berkeberatan untuk menerangkan kembali tanpa memiliki perasaan negatif.

 

Secara keseluruhan, nilai rata-rata yang didapat untuk setiap pertanyaan adalah sbb:

2.5

3.4

2.2

1.9

2.4

2.7

2.9

2.8

2.2

3.3

1.8

Nilai kesetujuan tertinggi pada pertanyaan 8, yaitu kehadiran mahasiswa, dan pertanyaan 2 yaitu tidak pernah ada orang lain yang mengganti untuk mengajar.

 

Untuk pertanyaan 8, terdapat 43% yang menjawab setuju sekali bahwa tingkat kehadirannya dalam kuliah ini tinggi. Penulis mencek dari daftar hadir, ternyata hanya 4,7% mahasiswa yang kehadirannya 100%, dan 14% yang pernah bolos sekali, 18,6% yang pernah bolos 2 kali.  Prosentase kehadiran dengan bolos maksimal 2 kali adalah 37,3%, berbeda dengan pengakuan dari 43% mahasiswa. Bahkan hampir 90% mahasiswa mengakui setuju dan cenderung setuju.

 

Jawaban cenderung setuju mendominasi jawaban terhadap pertanyaan 9, yaitu pemberian nilai melalui evaluasi yang dilakukan lebih dari satu kali. Kenyataannya sudah disebutkan bahwa terdapat sekian banyak perangkat untuk evaluasi. Hanya 40,5% mahasiswa yang dengan penuh yakin setuju pada pernyataan tersebut.

 

Tingkat kesetujuan yang sama dengan pertanyaan 9 ditunjukkan dalam jawaban dari pertanyaan 3, yaitu dosen selalu hadir dan menggunakan waktu kuliah dengan baik, yaitu 2,2. Untuk kasus ini jawaban tersebut adalah wajar karena alasan yang telah dituliskan sebelumnya.

 

Nilai terjelek yang diperoleh adalah untuk pertanyaan no. 2, yaitu dosen berkomunikasi/menyampaikan kuliah dengan baik, dan no. 10, yaitu mahasiswa menguasai/mengerti materi kuliah setelah mengikuti kuliah ini. Jawaban ragu-ragu untuk kedua pertanyaan tersebut tidak dapat dicek kebenarannya karena merupakan pengukuran kualitatif, namun penulis menganggap bahwa hal tersebut mungkin benar sehingga menjadi bahan perbaikan untuk cara berkomunikasi dalam mengajar pada masa yang akan dating, dengan harapan dapat meningkat kepercayaan diri mahasiswa dalam memahami materi yang telah diajarkan.

 

Dengan membaca artikel di atas, dapatkah anda menilai kedewasaan mahasiswa di kelas yang diasuh penulis?

   2 comments

Romeo
June 19, 2009   01:55 PM PDT
 
Pernah kejadian di sebuah Perguruan Tinggi yang juga menerapkan kuesioner. Seorang dosen mendapatkan predikat dosen teladan berdasarkan nilai Index Kumulatif dari hasil kuesioner tersebut.
Tapi ternyata setelah diteliti di lapangan, dosen tersebut memberikan jawaban ujian pada pertemuan akhir kuliah (istilahnya kisi-kisi). Sifat ujian open book sehingga mahasiswa dengan leluasa hanya menyalin jawaban dari catatan ke lembar jawaban. Dengan cara ini mahasiswa happy,memberikan tanggapan positif terhadap kuesioner atas dosen tersebut.
Terlihat bahwa mahasisiwa sekarang cenderung malas belajar,malas menggali potensi diri, lebih suka having fun.
Ada rekan saya yang bilang mahasiswa itu pinter-pinter,buktinya mereka lulus ujian saringan masuk. Eit jangan salah, apa benar ujian saringan masuk untuk menyaring mahasiswa atau sekedar formalitas? Pada PT yang berorientasi bisnis,jumlah mahasiswa mejadi hal yang utama,masa bodo mau calon mahasiswa itu pinter atau bodoh.
indres
May 31, 2006   03:33 PM PDT
 
Ha ha ha, mungkin selain memilih setuju atau tidak setuju, harus dijelaskan alasannya jika tidak setuju, biar tidak asbun mengisinya.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments