Saturday, March 05, 2005
What have you done for this country?

If you want to have a balance in your life, I think, you need to "Take and Give" to everything you've been connected to. For instance, we take the love and care from our parents who, sometimes, put all behind except their children's welfare. We try to give them back by anything we can afford: a financial support (if we're rich enough), being someone to be proud of (if we have a little achievement in our lives, whatever it is), or at least (if we can't even do those things) being independent financially and emotionally from them. Independent emotionally here means that we can take important decisions for our own life and to be responsible of the risk. Those all can make our parents feel happy for the rest of their lives. So we have given them happiness for our happiness we've received from them.

You can start to think many other examples and ask yourselves what you have done about it. But today I think I have done one of those. I can answer directly if somebody asks me, what I have done for this country who gave me the opportunity to study and live here with student's privileges. First, the obvious answer, I (or my government) pay the tuition fee. The overseas student's fee is almost 4 times higher than the home student's fee. Fortunately, I paid  the full fees only for two years. For other years, I've got an Overseas Research Student (ORS) Award so I only need to pay as much as the fee for the home student. The second answer is the copy right of my reseach's finding. The university owns all copy right of their student's works.

         Image hosted by Photobucket.com         

The next answer that I can speak loudly is I have donated my blood!
Today is the second time I give the donation. I would tell the story what the National Blood Service does with the donor blood, such as separating the blood into some components so they don't always give it as raw blood to the patients. Unfortunately, I don't have much time now. Someday I finish the story. But for sure, like the advertisement of this Service, I can say:

I did something amazing today!

London, 2nd March 2005

Posted at 09:21 am by AnnaSS
Comments (4)  

Sunday, January 09, 2005
look who's not scared




Rafi AD, keponakanku yang baru umur setahun 2 bulan.

Posted at 07:09 pm by AnnaSS
Comment (1)  

Tuesday, January 04, 2005
Beberapa situs tentang bencana tsunami Aceh

http://202.51.232.117/aceh/wordpress/ atau http://it.kpu.go.id/aceh/

http://indonesiahelp.blogspot.com

http://www.acehmediacenter.or.id atau http://www.acehmediacenter.or.id/en/ (In English)

Update 10/01/05 Tambahan dari comment:

Apa itu tsunami? Mengapa terjadi gempa dan tsunami? Bagaimana terjadinya? Apa tanda-tandanya? Adakah langkah antisipasi yang bisa dilakukan? Apa benar akan ada gempa dan tsunami susulan yang bisa melanda sebahagian besar wilayah Indonesia?

Kami mengumpulkan berbagai artikel pilihan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan memformatnya dalam bentuk eBook (PDF). Anda bisa mendownloadnya GRATIS di:

http://www.geocities.com/klipingmedia

http://www.geocities.com/klipingmedia2

http://www.geocities.com/klipingmedia3

Posted at 02:29 pm by AnnaSS
Comments (4)  

Friday, December 31, 2004
Bencana ataukah bukan?

Selama ini air selalu jadi kawan kita, setiap haus air jadi pengobat kehausan, badan disegarkan oleh air hangat di shower room atau air dingin di kolam renang atau pantai. Suara ombak di pantai serasa menenangkan, dengan sentuhan air yang kadang datang dan kadang pergi. Aku pernah termenung duduk di pasir pantai dengan segala amarah yang timbul karena suatu peristiwa yang terjadi sebelumnya, kemudian amarah itu hilang karena renungan dan buaian suara ombak yang tak henti berdebur. Air di pantai juga tempat permainan yang menyenangkan. Kita akan berteriak kegirangan ketika hempasan air laut yang menghancurkan istana pasir yang kita buat di pantai dan meninggalkan berserakan mainan plastik yang sebelumnya kita tempatkan pada istana pasir itu dan meratakan pasir yang semula kita gali dan tumpuk.

Sejak tsunami di samudra Hindia yang menghantam beberapa daerah di Asia Tenggara, 4 hari sebelum pergantian tahun ini antara jam 7 sampai 9 pagi, aku seakan perlu me-redefinisi-kan kesetiaan air sebagai kawan pada manusia. Sampai detik ini (31 Des 2004, 14.45) korban manusia atas pengkhianatan air di sana adalah sebagai berikut:

1. Indonesia: 79,940
2. Sri Lanka: 28,508
3. India (inc Andaman and Nicobar Is): 10,763
4. Thailand: 4,541
5. Somalia: 120
6. Burma: 90
7. Maldives: 67
8. Malaysia: 65
9. Tanzania: 10
10. Seychelles: 1
11. Bangladesh: 2
12. Kenya: 1

Namun aku menyadari bahwa air tidak bisa berbuat apa-apa. Selama ini daerah pantai di mana habitat air sangat banyak adalah daerah yang sangat diminati manusia. Bahkan tak jarang peradaban manusia di suatu pulau berawal dari daerah pesisir pantainya. Manusia berhasil membuat air tunduk pada manusia dan manusia banyak mengambil manfaat dari air itu. Bila kita berada di kolam air, dengan kekuasaan manusia, air tidak berbuat apa-apa ketika kita menghempas tangan kita sekuat tenaga sehingga air di kolam dibuat bergolak.

Saat itu air laut seakan hanya tunduk pada kekuasaan yang lebih besar lagi, yaitu Tuhan, yang memang sumber dari segala sumber hidup. Tuhan membuat terjadinya pergeseran struktur tanah di dasar laut sehingga air di atasnya bergolak sehingga menimbulkan tsunami. Dengan kekuatan terpendam yang berada dalam air, gelombang tsunami menghanyutkan seluruh mahluk hidup dan mati di sekitar pesisir pantai Aceh dan daerah lain, dan meninggalkan beratus ribu mayat bergelimpangan dan berbagai bangunan rusak dan telah rata dengan tanah. Kejadian ini dan cerita istana pasir sebelumnya adalah peristiwa yang sama tapi dengan skala kekuatan yang sangat jauh berbeda. Namun kali ini kita menangis pilu karena kehilangan segalanya, kehilangan keluarga dan saudara, kehilangan tempat tinggal, dan mungkin juga kehilangan harapan hidup.

Sekarang aku sering tercenung sendiri, apakah maksud dari Tuhan memberi bencana ini pada bangsa kita. Sebegitu marahkah Tuhan pada orang2 Aceh sehingga Tuhan mengambil kembali nyawa manusia baik dari orang2 yang hobinya berperang maupun orang2 Aceh lainnya yang sepanjang hidupnya hanya bertujuan mencari kemuliaan Allah. Apakah Tuhan juga ingin memberi pelajaran bagi seluruh penduduk Indonesia agar berhenti bertengkar, lalu bersatulah menolong saudara2nya yang sebangsa? Tuhan mungkin memberi peringatan agar manusia segera berusaha dengan akal pikirannya untuk membuat teknologi agar saat bencana alam ini terjadi, jumlah korban dapat diminimalkan. Akal dan berbagai fasilitas sudah diberikan Tuhan pada manusia, tapi mengapa manusia tidak segera memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat? Mengapa manusia hanya menggunakannya untuk menumpuk kekayaan duniawi dan saling bertengkar satu sama lain dalam upaya mempertahankan harga diri.

Aku semakin merasa kecil sekali menyadari begitu besar dosa kita. Di pintu penghujung tahun 2004 yang tinggal beberapa jam lagi, aku hanya bisa berdoa: Ya Allah, ampunilah dosa2 orang-orang yang telah menjadi korban di Aceh dan daerah lainnya, muliakanlah hidup mereka di akherat sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Ya Allah, bukakanlah hati dan pikiran kami, manusia yang masih tertinggal hidup di dunia ini, agar kami dapat memaknai semua tanda-tanda kebesaranMu dengan baik, dan merespon segala apa yang Engkau berikan pada kami dengan berbuat yang sesuai dengan jalan yang Engkau ridhloi. Amien.

London, 31 Desember 2004. 
Indonesia menangis.

Posted at 03:30 pm by AnnaSS
Comments (2)  

Wednesday, December 22, 2004
This is London as well... (Too bad!)

Malam sudah agak larut ketika aku turun dari bis nomor 9 di Hyde Park Corner. Aku harus cepat ambil bus ke arah Oxford Street, gumamku, semoga Yeni belum sampai di Nahar, sehingga dia tidak perlu nunggu lama. Kami janjian untuk makan malam di Nahar, restoran Malaysia yang terletak dekat rumahku. Aku cukup beruntung tinggal di central London, di mana ada banyak restoran halal dan supermarket.

Seorang ibu keturunan Afrika yang berbadan subur mengamati kegelisahanku ketika aku menengok papan elektronik pemberi keterangan nomor-nomor bus yang akan datang. "Are you waiting for bus 414 or 74?" Aku mengiyakan karena apapun bus dari bus stop itu menuju ke arah Oxford street. Sampai di Oxford street aku harus ganti bus lagi untuk menuju Paddington, rumahku.

"They've just gone two minutes ago". Aku pun mendesah kecewa karena aku melihat di papan pengumuman elektronik itu bahwa bus-bus tersebut akan datang sekitar 15 menit lagi. "I tried to stop them but they just went off! Crazy drivers!" Aku tersenyum prihatin." Nowadays there're so many crazy and bad people", ia pun lalu ngomel-ngomel soal beberapa kejahatan yang terjadi di UK baru-baru ini, seperti perampokan bank di Ireland yang berjalan mulus tanpa ada orang lain yang tahu karena sang manager bank, yang diam-diam memberi akses untuk membuka vault berisi 20 juta poundsterling pada perampok, ketakutan atas penyanderaan anggota keluarganya yang dilakukan sebelumnya oleh para perampok.

Sang ibu terus mengeluh bahwa sekarang London sudah menjadi tempat yang paling mengerikan kriminalitasnya dibandingkan tempat lain. Aku tersenyum saja mendengar ibu itu berkeluh kesah sambil sekali-kali mengiyakan. Ngomel-ngomel biasa dilakukan oleh orang-orang penduduk UK apabila ingin membuka pembicaraan pada orang asing di tempat umum. Aku sedikit tergelitik untuk bertanya pada ibu itu, "kalau memang berbahaya, kenapa ibu betah di sini dan nggak pulang ke negara asal ibu?" tapi aku urungkan niatku untuk bertanya. Takut menyinggung perasaannya, toh aku juga (temporary) "immigrant". Aku juga berpikir, orang di sini memang sudah jauh dari jalan Allah swt sehingga segala hal dilakukan tanpa takut akan hukuman Nya. Hanya sadar pada Allah swt lah jawaban yang tepat untuk terhindar dari hal-hal yang merugikan di manapun kita berada, sambil juga berusaha menjaga diri. Untunglah bus nomor 10 yang juga menuju Oxford street tak lama kemudian muncul. Aku segera naik sambil mengucapkan goodbye pada ibu subur tadi.

Di satu bus stop sebelum Oxford Street, tiba-tiba lampu bus padam, terang kembali, padam lagi, begitu beberapa kali. Oh dear, aku harus ganti bus di Marble Arch untuk sampai di Oxford Street. Untuk jalan kaki, walaupun berbeda hanya satu bus stop, adalah tidak mungkin. Karena aku harus menyebrang dua kali jalan besar yang padat lalu lintas walaupun sudah larut malam.

Aku jadi teringat kekesalan yang sama di Indonesia bila angkot yang kita tumpangi tiba-tiba berhenti dan mengalihkan semua penumpangnya ke angkot lainnya. Ini karena jumlah penumpangnya tidak begitu banyak sehingga sang supir angkot ingin segera membalik arah jalur angkotnya tanpa menjalani seluruh jalurnya. Ternyata di London terjadi hal yang sama. Hanya supir sini lebih fair karena memang di atas busnya tertulis tujuannya memang bukan tujuan akhir yang biasa. Tertulis di atas bus itu bahwa tujuan akhirnya adalah Marble Arch, bukan King's Cross seperti biasanya. Namun sayang, aku baru menyadarinya setelah aku turun dari bus dengan perasan "terpaksa".

Singkat cerita, ternyata aku dan Yeni sampai di Nahar pada waktu yang bersamaan. Lalu kami makan Nasi Goreng Kampung Special dan minum teh tarik, sambil mengobrol banyak hal. Cukup banyak yang kami obrolkan, maklum kami sudah lama tidak bertemu untuk mengobrol. Selesai makan, dengan menenteng satu plastik berisi tomyang dan ayam goreng bawang putih, aku berpisah di perempatan jalan Spring Street, Praed Street dan Craven Hill. Akupun pergi ke arah Craven Hill dan kemudian membelok masuk ke jalan Chilworth Mews.

Beberapa meter sebelum masuk ke Chilworth Mews, aku terkejut melihat seorang laki-laki tinggi besar, berbalut jaket tebal, sedang menghadap ke jalan Chilworth Mews sambil...kencing... astagfirullah. Satu hal yang semakin membuatku terkejut, dia tidak malu mengeluarkan kemaluannya di tengah jalan dan kencing tanpa harus sembunyi-sembunyi. Aku mengamati wajah orang itu sambil menunjukan keterkejutan dan marah. Dia menatapku balik sambil berkata "I am coming back, I am from here, UK... I love this country" Dia menghampiri tembok di depannya lalu mencium tembok tersebut sambil berkata "I love this country" muah muah....

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa bulan lalu landlady ku dan aku memergoki seseorang kencing di tembok sebelah kanan pintu depan flat kami. Landladyku marah besar lalu memaki-maki orang itu sambil mengancam akan memanggil polisi. Orang tersebut tinggi besar dengan jubah dan memakai topi haji.. Ya orang itu berkebangsaan Arab dan mungkin beragama Islam. Keesokan harinya aku mendapati kembali orang dengan kebangsaan yang sama yang kencing TEPAT di depan pintu masuk flat. Aku marah-marah sambil mengancam memanggil polisi. Tapi dia dengan tenangnya bilang tidak akan mengulangi perbuatannya dan malah mengajak salaman! Puih mana aku mau salaman tangan kotor itu!

Dua peristiwa tadi membuatku berpikir bahwa kami tidak bisa berbuat apa-apa. Malah kemarahan kami pada mereka membuat mereka dendam dan sengaja kencing di tempat kami. Berbagai usaha sudah kami lakukan, yaitu telpon dan mengirim email ke Westminster Council. Council ini memang telah membuat peraturan bahwa kencing di tempat publik itu melanggar aturan dan dapat dilaporkan ke polisi. Syukurlah beberapa waktu ini pintu depan kami sudah tidak dikencingi lagi. Pintu depan kami memang agak menjorok ke dalam sehingga menyisakan ruang kecil yang bisa melindungi orang dari sinar lampu jalan Chilworth Mews dan Craven Hill. Posisi ini memang cocok untuk bersembunyi dari orang-orang yang lewat di jalan besar Craven Hill. Namun ternyata orang yang baru kutemui kencing di jalan sudah tidak perlu lagi menyembunyikan kemaluannya sehingga dia bebas menyalurkan hasrat untuk kencing di tengah jalan.

Astagfirullah....ternyata sudah banyak orang yang sudah tidak punya malu sehingga tidak perlu menyembunyikan kemaluannya! Kalau hal ini sudah terjadi di Indonesia, berarti kita perlu membuang nama itu karena benda itu tidak menimbulkan malu lagi! Dan akupun teringat kata-kata Cak Nun pada suatu pengajian: "hanya orang gila yang mempertontonkan kemaluannya dibuka di depan umum..."

Posted at 02:38 am by AnnaSS
Comment (1)  

Sunday, December 12, 2004
Mabuk the Phantom of the Opera

Kali ini aku mau nulis yang ringan-ringan saja, nggak serius-serius amat seperti yang pernah dikeluhkan Rani tentang blogdriveku. Entah, mungkin aku cenderung merasa serius pada sesuatu yang sesungguhnya nggak perlu diseriusi....nah lagi-lagi aku bakalan terjebak dalam keseriusan lagi kalau aku nggak stop paragraf ini....

Kemaren malam aku nonton film the Phantom of the Opera bersama temanku Bonus. Teman satu ini memang paling rajin mengajakku nonton film. Ada satu lagi temanku yang suka ngajak nonton yaitu Maryam. Sayang dia kayaknya masih ada di negaranya, Kuwait, dalam keadaan sakit. Semoga cepat sembuh, Maryam.

The Phantom of the Opera adalah cerita theater yang sangat terkenal di seluruh dunia. Salah satu karya Andrew Lloyd Weber ini sudah dimainkan di 20 negara, 110 kota di dunia, termasuk pertunjukan tetapnya di London, New York dan Budapest. Dan pertunjukan ini memperoleh lebih dari 50 penghargaan, salah satunya sebagai pertunjukan musik paling populer tahun 2002. Aku sudah pernah menonton pertunjukan theaternya tahun 2001 sebagai hadiah ulang tahun dari Rino untuk kami berdua yang berulangtahun pada tanggal yang sama, 15 November. Thanks a lot, Rino.

Pulang dari nonton film, Bonus merasa ada panggilan untuk menyanyikan salah satu lagu romantis dari film ini, All I Ask of You, walaupun nggak hafal lyriknya. Pertama kali aku agak ragu untuk membiarkannya menyanyi, takutnya aku terpaksa berpura-pura pada orang-orang yang lewat bahwa aku bukan teman seperjalanannya saking malunya. Tapi lama-lama aku juga ikut gila, nyanyi satu dua kalimat dari lagu itu sambil mengingat-ingat apa benar memang begitu kalimatnya. Jadinya kami seperti dua "gadis mabuk" sambil menyanyi keras-keras: Say you’ll share with me one love, one lifetime... Let me lead you from your solitude (sengaja aku nulis baris lagu ini setelah aku liat lyrik aslinya di internet... Takut kamu ketawa kalau tau apa kalimat yang sesungguhnya kami nyanyikan waktu itu...). What a romantic song.... Akhirnya aku sadar, bagi kami untuk mabuk tidak perlu minum bergelas-gelas alkohol, cukup nonton film the Phantom of the Opera!

Sampai di salah satu persimpangan jalan Kensington High Street, kami pun berpisah. Bonus terus menyusuri jalan itu sedangkan aku membelok ke Kensington Church street. Bonus sebenarnya ingin kembali ke kampus untuk mencari lyrik lagunya di internet dan menghapalnya. Sayangnya saat itu sudah jam 11 malam lebih, kampus sudah tidak bisa dimasuki apabila sudah lewat jam 11 malam. Aku lalu mengajak untuk masing-masing untuk mencari lyriknya dan menghapalkannya, suatu saat kami bisa menyanyikannya bersama.

Aku tuliskan lyriknya di bawah ini sambil bernyanyi... Mari bernyanyi bersama..

All I ask of You

[Male voice] (Raoul)
No more talk of darkness
Forget these wide-eyed fears
I’m here, nothing can harm you
My words will warm (you) and calm you

Let me be your freedom
Let daylight dry your tears
I’m here, with you (and) beside you
To guard you and to guide you

[Female voice] (Christine)
Say you love me every waking moment
Turn my head with talk of summertime
Say you need me with you now and always
Promise me that all you say is true
That's all I ask of you

[Raoul]
Let me be your shelter
Let me be your light
You’re safe, no one will find you
Your fears are far behind you

[Christine]
All I want is freedom
A world with no more night
And you, always beside me
To hold me and to hide me

[Raoul]
Then say you’ll share with me one love, one lifetime
Let me lead you from your solitude
Say you need me with you here, beside you
Anywhere you go, let me go too
Christine, that's all I ask of you

[Christine]
Say you’ll share with me one love, one lifetime
Say the word and I will follow you
Share each day with me, each night, each morning

[Christine]
Say you love me

[Raoul]
You know I do

[Both]
Love me, that's all I ask of you

Anywhere you go, let me go too
Love me, that's all I ask of you 
 
Dec'2004

Posted at 01:04 am by AnnaSS
Comments (2)  

Thursday, October 28, 2004
POTENSI DIRI

Mataku terbelalak seakan tak percaya mendengar apa yang dikatakan Hannah. Saya hanya berharap bola mataku tidak lepas karena sedemikian lebar mataku terbelalak, seperti yang pernah diledekkan teman-teman isengku. Sekali lagi Hannah berkata sambil meyakinkan, "Ya betul, Bing Bing gagal dalam transfer test untuk melanjutkan program doktoral. Padahal kemampuan akademis dia tinggi".

Ingatanku tertuju pada gadis Chinesse lulusan universitas di Inggris, berusia sangat muda dan berbahasa Inggris medok. Dengan penampilan sangat trendi, sering badannya berbalut baju dan rok mini dan stocking jala, dia datang ke ruanganku di kampus untuk mencari Hannah. Dia bercerita bahwa dia baru saja mengganti pembimbingnya yang lama untuk pindah ke bawah bimbingan seorang profesor yang juga membimbing Hannah. Kisah ketidakserasian dalam hubungan dengan pembimbing pun kemudian saya ketahui. Namun sayangnya di bawah bimbingan profesor yang baru pun dia tidak merasa nyaman bekerja sehingga akhirnya dia gagal dalam menjalani sidang. Sidang ini menentukan dia dianggap tidak mampu untuk melanjutkan sekolah untuk meraih gelar doktor.

Sungguh ini suatu kenyataan yang sangat di luar dugaan dan menimbulkan kegelisahan dalam hatiku. Seorang lulusan universitas Inggris yang berkemampuan akademis tinggi ini saja gagal menempuh ujian, bagaimana dengan nasibku yang jelas berkemampuan lebih rendah dari para lulusan universitas di Inggris. Namun syukurlah serasa Tuhan masih mengijinkan aku untuk sekolah di universitas yang mempunyai peringkat ketiga se-UK ini, sehingga aku dinyatakan lulus pada saat aku menjalani sidang yang sama.

DROP OUT = GAGAL??

Sebuah email diposting seorang dosen pada mailing list untuk staf pengajar ITB. Sang penulis memberikan pandangannya agar ITB harus hati-hati dalam menentukan apakah seorang mahasiswa tidak mampu untuk melanjutkan sekolah di ITB alias drop out. Keputusan ini tidak hanya mempengaruhi si mahasiswa tapi juga menghancurkan harapan orangtua dan orang-orang di sekelilingnya. Si mahasiswa pun mungkin akan kehilangan semangat hidupnya dan mungkin tidak mempunyai gairah untuk melanjutkan sekolah di tempat lain juga.

Beberapa email diposting menanggapi email tersebut. Salah satunya menyebutkan bahwa banyak orang-orang yang drop out dari sekolah malah berhasil dalam hidupnya, atau malah lebih terkenal dan mempunyai banyak harta daripada para mahasiswa yang berhasil lulus sarjana. Beberapa contohpun dikemukakan, yaitu Adi Sasono yang berhasil jadi menteri koperasi semasa pemerintahan B.J. Habibie. Bahkan Indonesia baru-baru ini diperintah selama 3 tahun oleh orang yang DO dari Unpad. Kesimpulannya adalah mahasiswa yang drop out bukan berarti sudah dijamin tidak akan berhasil hidupnya. Tapi tetap saja kita selalu memandang rendah mahasiswa yang drop out sebagai orang yang gagal dan bodoh.

Saya pun mulai bertanya dalam hati, mengapa mahasiswa yang masuk ITB, atau universitas favorit lainnya, yang terseleksi secara ketat melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), masih ada yang tidak mampu melanjutkan sekolahnya karena alasan akademis. Berbagai faktor penyebab muncul dalam benakku. Satu faktor adalah lingkungan yang baru bagi mahasiswa. Selepas SMA kebanyakan mereka harus berpisah dari orangtua dan harus dihadapkan berbagai pilihan yang harus mereka putuskan sendiri. Salah seorang mahasiswa dari Papua yang saya ajar pernah mengaku dia sering tidak masuk kuliah karena ia sibuk menjalankan perintah para senior di asramanya, misalkan mencuci mobil seniornya. Ia lebih takut tidak diterima oleh lingkungan sekelilingnya daripada ketinggalan pelajaran.

Faktor yang pertama ini memang agak berat karena menyangkut naluri manusia sebagai makhluk sosial. Pada masa seusia inilah manusia dalam keadaan bimbang mencari identitas dirinya, sehingga ia mencarinya melalui kelompok-kelompok di sekelilingnya. Sekali dia terjerumus pada lingkungan yang salah maka akibatnya bisa fatal. Kita dapat menyebutkan contoh yaitu Imam Samudra alias Abdul Azis alias Qudamah yang merupakan anak yang sangat cerdas namun terperosok pada lingkungan yang membuat dia berpikir untuk meledakkan bom di Bali.

Faktor kedua adalah ekonomi. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak mahasiswa berasal dari keluarga miskin. Orangtua mereka tidak mampu memberi biaya untuk membayar uang kuliah dan biaya hidup. Akibatnya, sang mahasiswa harus berpikir untuk memperoleh uang. Sistem beasiswa sekarang belum secara baik menjangkau mereka yang berpotensi dan belum menunjukkan suatu prestasi yang menonjol. Berbagai cara dilakukan untuk mencari uang, seperti menjadi guru privat bagi murid-murid SD sampai SMA. Bahkan ada yang berpikiran sesat untuk menjadi joki di UMPTN bagi anak-anak yang berduit. Kadang kegiatan mencari uang ini menyita waktunya banyak sehingga mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk belajar.

Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengurangi beban anak-anak miskin ini. Program beasiswa yang dapat menjangkau semua anak yang berpotensi perlu diperbanyak. Salah satu program lain yang cukup menarik adalah beasiswa kerja. Sang mahasiswa mendapat hak untuk memperoleh uang sekolah dan biaya hidupnya apabila ia mau meluangkan waktunya untuk bekerja di kampus. Waktu yang disita untuk bekerja ini tidak lebih dari 2 jam per minggu. Selain mendapatkan biaya, sang mahasiswa diajarkan untuk berjuang dulu sebelum memperoleh hasilnya.

TEMPAT YANG IDEAL

Faktor yang ketiga, yang tidak kalah pentingnya, adalah bagaimana perguruan tinggi, semacam ITB dan universitas lain, memang sudah menyediakan fasilitas dan memberikan pelayanan kepada mahasiswa sehingga mahasiswa dapat tergali potensinya dan meningkat kualitas keilmuannya. Banyak penyebab yang membuat kuliah menjadi bukan sesuatu yang menyenangkan bagi mahasiswa, sehingga menjadi beban yang sangat berat. Misalkan kemampuan mengajar sang dosen yang tidak memotivasi mahasiswa untuk belajar, sistem perwalian akademis yang tidak berjalan sehingga tidak dapat menangkap sejak dini masalah yang dialami mahasiswa, birokrasi akademis yang tidak menguntungkan mahasiswa yang bermasalah, dan lain sebagainya.

Kadang alasan untuk tidak perlu memperbaiki keadaan di atas adalah pemahaman bahwa mahasiswa adalah manusia dewasa yang sudah tidak perlu dimotivasi untuk belajar. Namun perlu diingat bahwa mereka belum sepenuhnya dewasa, mengingat mereka baru lulus SMA, dan pada saat inilah mereka bertumbuh untuk menjadi manusia dewasa. Untuk membentuk kedewasaan seseorang, penempaan kualitas IQ tidak cukup, namun perlu diberi peluang untuk memberi mengembangkan kemampuan EQ nya.

Jadi sekarang pihak universitas jangan memandang rendah mahasiswa yang terancam drop out sebagai manusia yang gagal. Bukan berarti dia terlalu bodoh untuk mengikuti pelajaran di universitas, namun perlu dipertanyakan kemungkinan kampus kita bukan tempat yang tepat untuk menggali potensi diri sang mahasiswa. Oleh karena itu, sang mahasiswa perlu ditantang untuk mencari tempat dimana dia akan tergali potensi dirinya untuk menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan lingkungannya.

Proses mencari tempat yang ideal untuk mengembangkan diri tidak terbatas pada tempat menimba ilmu saja. Dalam mencari pekerjaan seseorang dapat menemui kegagalan sebelum menemukan tempat yang tepat. Sekedar menyebut contoh, Andy Malarangeng yang gagal untuk menjadi diplomat dalam tes masuk Departemen Luar Negeri, sekarang bisa terkenal sebagai pengamat politik dan menjadi juru bicara presiden bersama dengan diplomat Dino Pati Djalal. Masih banyak kisah-kisah kegagalan awal yang berakhir dengan keberhasilan berkat keteguhan tekad untuk maju terus sampai menemukan tempat yang tepat.

Posted at 02:02 am by AnnaSS
Comments (3)  

Thursday, September 23, 2004
UNTUK APA ?????

Puisi oleh petugas entry data Pemilu di Barito Utara

From: barito utara [mailto:baritoutara@mail.kpu.go.id]
Sent: Thursday, September 23, 2004 3:39 AM
To: allkabupatenpropinsi@mail.kpu.go.id
Cc: basuki@itb.ac.id
Subject: UNTUK APA ?????

kalau saja pemilu 2004 ini tidak dilaksanakan ..........................
kalau saja Indonesia tidak perlu anggota dpr .............................
kalau saja Republik ini tidak punya anak bangsa yang peduli dengan bansanya ..........
kalau saja Nusantara bisa menangis .........................
KALAU SAJA INDONESIA TIDAK PUNYA SEORANG BASUKI SUHARDIMAN
KALAU SAJA INDONESIA TIDAK PUNYA SEORANG CHUSNUL
 
tentu Anda akan bertanya :
 
UNTUK APA ADA TI ?
UNTUK APA 200.000 ANAK BANGSA BEGADANG SETIAP PEMILU ???
 
HANYA UNTUK CARI JATI DIRI ?????
UNTUK BERJUANG MEMBELA DEMOKRASI BANGSA ????
 
OH.......................
 
HONOR SAJA TAK CUKUP UNTUK MEMBAYAR LOYALITAS INI !!!!!!
JANJI-JANJI MULUK DAN KATA-KATA MANIS TAK SANGGUP MENGOBATI SAKIT HATI INI !!!!!!
 
Banyak orang meremehkan K(IT)A,
Anggota KPUD tak peduli,
Bupati cuex,
Banyak lagi orang yang mencibir, 
 
tapi Chusnul adalah Chusnul !!!!
tapi Basuki adalah Basuki !!!!
 
hanya mereka yang tetap tegar meendukung tim K(IT)A
 
Jangan bayar kami dengan HONOR yang TAK SEBERAPA
Sapaan, senyuman, sanjungan, pujian, penghargaan, penghormatan, pengakuan, 
CUKUP UNTUK KAMI !!!!
 
JADI .................................................................
 
UNTUK APA ??????
 
 
=== Angga Indra     : Cepet lulus ya, dik ! Biar cepet jadi seperti Basuki dan Chusnul
=== Hendra Kaltim    : SCHOMAP MENUNGGU LOOOOO

Posted at 07:32 pm by AnnaSS
Comment (1)  

Friday, September 17, 2004
Ups and Downs

Kadang optimis kadang pesimis
Kadang penuh ide kadang kosong
Kadang bersemangat kadang lemas tak bertenaga
Kadang bangga kadang tak percaya diri

Saat senang saat sedih
Saat suka saat benci
Saat menerima saat menolak
Saat memahami saat mempertanyakan

Hidup selalu alami dua sisi yang berbeda
Kadang positif dan kadang negatif
Saat terang dan saat gelap
Silih berganti, bahkan dalam beberapa kejap
Di saat yang satu datang seakan menafikan yang lain

Mengetahui apa yang sedang datang sekarang adalah tanda kedewasaan
Tidak melupakan pernah mengalami sisi yang lain
dan mengambil langkah positif adalah kebijaksanaan

Hidup adalah perjuangan
Memahami hidup agar dapat terus melangkah maju
Ya Allah, bimbinglah hambaMu ini.... 
 
London, 17 Sep 2004

Posted at 12:55 am by AnnaSS
Comments (4)  

Wednesday, August 25, 2004
Anakku diterima di PT negeri!!

Pagi belum beranjak terang, namun seorang remaja, lelaki berbadan tinggi kurus namun berbalut jaket tebal dan memegang koran Pikiran Rakyat, masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang dengan tergesa. Koran Pikiran Rakyat yang dibeli langsung dari agen pusat penjualan itu mencetak pengumumam Sipenmaru. Di dalam sang Ibu baru saja datang dari pasar tak jauh dari rumah. Ibu memang hampir setiap hari pergi ke pasar selepas sembahyang subuh. Begitu melihat ibunya, sang remaja,  dengan wajah berseri berteriak,'Saya diterima Bu!!'. Sang Ibu tak kuasa menahan gembira dan terharu, ia melepaskan seluruh belanjaannya dan segera memeluk erat anak sulungnya itu. Erat dan lama, wajah sang Ibu sambil terpejam terbenam dalam dada anak sulungnya yang lebih tinggi itu. Seakan terlepas semua kekhawatiran yang melanda hatinya. Sepasang mata bocah SMP tanpa berkedip menyaksikan peristiwa ini sambil mereka-reka maknanya.

Berpuluh-puluh tahun sudah peristiwa itu berlalu. Dalam kepala sang bocah tadi, yaitu penulis, makna peristiwa itu semakin hari semakin mengental seiring dengan waktu berjalan. Semula peristiwa itu meninggalkan kesan tak terlalu dalam. Saya hanya tahu kalau Ibu (sekarang almarhum) kurang kerap mengekspresikan emosinya melalui pelukan dan ciuman, dan saya tahu bahwa Ibu sangat membenci jaket tebal itu karena baunya yang menyengat karena jarang dicuci oleh kakak sulungku, sang remaja lelaki tadi. Namun karena ledakan kegembiraan bercampur rasa syukur, Ibu lupa hal akan jaket tebal berbau tadi dan memeluk membenamkan wajahnya ke dalam dada anak lelaki itu yang dibanggakannya itu.

Peristiwa ini jadi momentum penting bagi keluarga kami. Dengan diterimanya anak sulung dalam keluarga di perguruan tinggi negeri, ambisi ketiga adik-adiknya untuk melakukan hal yang sama menjadi kuat dan alhamdulillah ternyata semuanya bisa diwujudkan.

Melanjutkan sekolah di perguruan tinggi negeri yang berbiaya rendah masih merupakan hal yang cukup sulit diwujudkan saat itu di kota kami, Cimahi. Banyak anak-anak lelaki lebih menggantungkan harapannya untuk menjadi tentara, sejalan dengan julukan mereka sebagai 'Anak Kolong', anak-anak tentara. Namun keluarga kami sangat menggantungkan harapan pada perguruan tinggi negeri. Alasannya, selain karena orangtua kami lulusan perguruan tinggi negeri, ITB dan IKIP Semarang, juga karena ekonomi keluarga yang pas-pasan mengharuskan orangtua kami memperhitungkan setiap keping uang yang keluar." Bapak itu nggak tahu bisnis", Ibu kerap berujar. Kegiatan bisnis Bapak, berupa pengadaan apotek atau laboratorium kesehatan, tidak memberikan keuntungan yang berlimpah. Alhasil kehidupan sehari-hari lebih banyak ditopang oleh gaji dari pemerintah karena pengabdian Bapak sebagai tentara Angkatan Darat.

Bagi kami, dengan cita-cita yang masih serasa di awang-awang, mengingat tak banyak cerita keberhasilan dari lingkungan kami, diterimanya kakak sulung kami seakan meyakinkan kami bahwa cita-cita itu bukan sesuatu yang mustahil diraih. Akhirnya satu demi satu kamipun dapat meraih keberhasilan itu sehingga orangtua kami bernafas lega karena hanya perlu membiayai kami semua sekolah di ITB yang masih terjangkau uang sekolahnya. Walaupun ada yang tersandung langkah sehingga harus sekolah di perguruan tinggi swasta selama setahun, namun akhirnya dapat kembali membuktikan diri dapat menggapai cita-cita bersama itu.

Perasaan gembira yang serupa dirasakan oleh Ibu Maryam, seorang istri pensiunan di Cimahi, ketika mendengar Winda, anak asuhnya telah diterima di Universitas Pendidikan Bandung, jurusan Sastra Inggris. Winda, yang menjadi yatim sejak SD, masih tetap tinggal bersama ibu dan keluarganya. Tiap tiga bulan ia mendapat santunan dari seorang dermawan yang sudah bertekad untuk menyekolahkan dia sampai selesai. Semula ada sedikit kekhawatiran akan kelangsungan dukungan untuk sekolah ini apabila ia tidak bisa masuk sekolah negeri, mengingat besarnya biaya sekolah swasta. Namun kekhawatiran itu sudah lenyap sudah. Ibu Maryam bukan ibunya, dia hanya mensuport biaya sekolah saja, namun munculnya rasa kebanggaan dalam hatinya tidak bisa dihindari. 


Sekolah negeri, kalau harga cocok boleh daftar

Selama ini, banyak orangtua yang tidak dapat menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi karena alasan biaya. Apalagi dengan berubahnya 4 perguruan tinggi negeri menjadi institusi berbadan hukum dan punya otonomi, UI, ITB, UGM dan IPB. Mereka berlomba-lomba untuk mencari uang untuk membiayai kegiatannya. Alih-alih berpikir keras untuk mengemas ilmunya agar bisa diterapkan dan 'dijual' di bidang industri, kebanyakan dari mereka malah menaikkan uang sekolah secara dramatis. Bahkan dalam menghadapi protes dari masyarakat terhadap tingginya kenaikan uang sekolah itu, seorang petinggi dari salah satu perguruan tinggi itu dengan enak menjawab, 
 "Kalau merasa terlalu mahal, ya jangan mendaftar. Kalau merasa cocok, baru mendaftar,"
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/24/utama/1224070.htm
Ucapan ini seperti ucapan pedagang kaki lima yang sedang diprotes barangnya kemahalan! Jadi kesimpulannya pendidikan itu barang dagangan, kalau cocok boleh ambil!!

Lalu bagaimana nasib anak-anak kolong seperti kami yang kehidupan keluarganya hanya bisa menggantungkan hidup dari gaji pemerintah? Beruntung bagi anak-anak yang memang pintar sekali sehingga banyak yang berminat untuk memberi beasiswa. Bagaimana halnya dengan anak-anak yang berpontensi namun belum kelihatan menonjol, hanya perlu lebih "rajin diasah" dan diberi peluang. Apakah mereka tidak berhak untuk bersekolah di sekolah yang, katanya, bermutu hanya karena "tidak cocok dengan harga"?

Sebenarnya banyak sekali peluang bagi perguruan tinggi untuk memperoleh uang "secara lebih terhormat". Perguruan tinggi adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, perguruan tinggi dapat "berjualan" pada kalangan industri yang memang berlimpah dengan uang. Seperti contohnya fakultas Ilmu Komunikasi dapat mengadakan kursus-kursus tentang komunikasi berdasarkan data riset mutakhir, seperti bagaimana menjual produk kondom pada masyarakat Baduy (ini hanya contoh ekstrim, yang menunjukkan masih banyak peluang pasar yang belum pernah terpikirkan). Fakultas teknologi industri juga sangat berpeluang menjalin hubungan dengan industri berbasis ilmu pengetahuan terkini. Sampai saat ini seluruh penjuru dunia masih setuju bahwa ilmu pengetahuan dapat menjawab segala aspek kehidupan, kecuali hal yang menyangkut hubungan manusia dan Sang Pencipta.

Pinjaman biaya sekolah

Persoalan bagi tingginya ongkos pendidikan tinggi dapat diatasi juga dengan diadakannya pinjaman lunak bagi mahasiswa. Dengan kata lain, pemerintah yang pertama kali menanggung biaya pendidikan mahasiswa. System pinjaman lunak ini diterapkan di UK. Saya sedikit merasa iri melihat betapa tenangnya Ibu Ita Gibbons menghadapi perubahan jenjang sekolah anaknya, dari A level ke perguruan tinggi. Putri pertamanya, Tia Gibbons, berhasil diterima di University of Bristol. Dengan mengambil pinjaman lunak untuk biaya sekolah selama 3 tahun, Tia dapat melanjutkan sekolahnya tanpa banyak mengganggu keuangan orangtuanya yang hidup bersahaja di Cholchester. Pinjaman ini dapat dikembalikan setelah ia mendapatkan pekerjaan kelak.

Persoalan membayar pinjaman lunak selama kuliah juga dialami Sandra Ogunya, seorang British peranakan Uganda, yang melanjutkan sekolah ke program doktoral di Imperial College London. Namun karena ia mendapat beasiswa untuk program yang sekarang dijalaninya, ia diberi kesempatan untuk menunda waktu pembayaran pinjaman lunak itu. Ia tidak perlu memberi kekhawatiran bagi keluarganya tentang masa depannya nanti.

Sungguh suatu yang sangat menyenangkan apabila Indonesia dapat menerapkan sistem pinjaman lunak bagi mahasiswa ini. Selain itu, perguruan tinggi negeri telah dengan cerdas mencari peluang untuk memperoleh dana. Ditambah juga dengan program beasiswa yang terus digalakkan dan aksesnya dapat dijangkau bagi anak-anak muda miskin yang berpotensi. Sungguh lega rasanya bila suatu saat semua Ibu dapat berteriak," Anakku diterima di perguruan tinggi favouritnya", tanpa sedikitpun menyisakan kekhawatiran soal biayanya.

Posted at 04:48 pm by AnnaSS
Comments (5)  

Previous Page Next Page



AnnaSS


An ordinary Indonesian girl who lives her life for study.
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed