Thursday, November 27, 2008
GURU FISIKA YANG INSPIRASIONAL

Oleh JANSEN H. SINAMO


JAM tujuh pagi, suatu hari pada tahun 1981, di sebuah ruang kuliah
kuno bersuasana gelap dan kelam, yang dibangun pada zaman Belanda,
sebuah kuliah fisika yang sangat modern segera akan dimulai. Fisika
kuantum nama kuliah itu.

Hariadi Paminto Soepangkat—doktor fisika zat padat lulusan
 Universitas
Purdue, Indiana, AS—sang dosen yang berkulit putih bersih bertubuh
tinggi besar yang dibalut busana rapi lengkap pakai dasi bak eksekutif
bisnis itu, telah berdiri penuh wibawa di hadapan sekitar 150
mahasiswa dari tiga jurusan: fisika, astronomi, serta geofisika dan
meteorologi.

Belum dua puluh menit kuliah berjalan, usai Pak Hariadi menggambar
orbit-orbit lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis,
tiba-tiba nama saya dia panggil.

”Saya, Pak,” jawab saya agak terkejut sambil mengangkat tangan.

”Kota asal Saudara di mana?” tanyanya sambil menuruni panggung
 kuliah
yang rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati tempat saya duduk
di barisan depan.

”Sidikalang, Pak,” jawab saya.

”Oh ya? Kata Pak Andi Hakim Nasution, Rektor IPB, daerah Saudara
penghasil kopi ya? Kopi Sidikalang enak kata Pak Nas. Betul?”

”Betul, Pak,” jawab saya sumringah.

”Sidikalang itu berapa kilometer jaraknya dari Medan?”

”Seratus lima puluh kilo Pak.”

”Kalau naik bis ke Medan berapa ongkosnya?”

”Lima ribu, Pak.”

”Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?”

“Berastagi, Pak.”

Sambil memandang kepada semua mahasiswa sesudah kembali ke panggung
kuliah, Pak Hariadi berkata, “Kira-kira seperti inilah yang dimaksud
dengan energi ambang. Jika uang Saudara Jansen cuma tiga ribu, itu
 tidak
cukup mengantarnya sampai ke Medan. Jadi, lima ribu adalah uang ambang
yang diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang.”

“Nah, demikian pula elektron: dia butuh energi ambang, itu energi
 yang
minimum, untuk bisa pindah ke orbit yang lebih tinggi. Kita sudah tahu
bahwa energi itu tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya
terkuantifikasi. Paket-paket energi yang terkuantifikasi ini dalam
bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta energi, yang besarnya
menurut Max Planck adalah hv, di mana v  frekuensi radiasi itu dan h
adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626×10-pangkat- minus-34
joule-detik. Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat
kuanta ini. Tidak hanya pada elektron tetapi juga foton dan semua
zarah renik di tingkat subatom. Inilah asal-usul nama kuantum pada
fisika kuantum yang kita pelajari ini. Fisika kuantum mempelajari
perilaku zarah-zarah subatomik, dinamika dan interaksinya, serta
relasinya
 dengan
medan yang memengaruhinya.”

Entah apa lagi yang dikuliahkan Pak Hariadi pagi itu saya sudah lupa.
Tapi, saya terpesona sudah. Sidikalang dan saya jadi pusat perhatian
seluruh kelas dan terutama Pak Hariadi. Cuma beberapa menit saja
 sorotan
lampu perhatian itu, tapi sudah cukup membuat saya merasa diri
spesial.

Dan sejak momen itu rasa suka saya berlipat ganda kepada Pak Hariadi.
Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada fisika kuantum.

Singkat cerita, pada ujian akhir semester itu saya mendapat nilai A.

Dan ini tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di kelas
saya angkatan 1978, saya cuma mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai
saya adalah C, agak lumayan dapat B, tapi yang mendapat nilai A
sungguh sangat sedikit.

Tapi, mendapat nilai A pada fisika kuantum selangit rasanya. Buat saya
itu setara dengan nilai A pada sepuluh mata kuliah yang lain. Fisika
kuantum adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan
Fisika, kreditnya maksimum: empat. Bukan cuma itu, di zaman  itu, cuma
ada dua mata kuliah fisika yang dianggap dahsyat: fisika kuantum dan
teori relativitas. Yang terakhir ini belum disajikan di tingkat S1.
Fisika kuantum pun sebenarnya baru cuma pengantar pada kuliah sepenuh:
mekanika kuantum, yang akan disajikan nanti di tingkat S2.

Saya juga takjub pada diri sendiri. Mengapa mendadak saya jadi pintar
sekali? Tapi, saya akhirnya menyadari: itu semua karena cara dan gaya
Pak Hariadi mengajar kami memang luar biasa.

Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum jam
kuliah dimulai. Di hampir semua mata kuliah lain, mahasiswa yang
menunggu dosen. Tapi Pak Hariadi sebaliknya.

Pak Hariadi selalu tampil necis: busananya, kebersihannya, dan
istimewa tulisannya. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain
lap basah yang dibawanya dari kantornya. Ada tiga papan tulis di kelas
kami. Dibersihkannya dulu papan tulis ketiga saat dia mulai memakai
papan tulis pertama, sehingga papan tulis ketiga itu sudah kering saat
dia akan memakainya. Demikian seterusnya sampai kuliahnya yang
berdurasi
 100
menit itu selesai.

Lima tahun saya kuliah di ITB, tidak pernah saya bertemu dengan dosen
lain yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak
Hariadi.

Pak Hariadi juga pekerja cepat. Hari ini ujian, besoknya jawaban
soal-soalnya sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika
hanya Pak Hariadi yang mampu dan disiplin berbuat demikian.

Dia pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap kuliah
 ia
mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan seperti saya di atas
setiap mahasiswa yang terpilih namanya disebut diajaknya berinteraksi.
Dan dari interaksi pendek itu, tiba-tiba bisa keluar ilustrasi untuk
menjelaskan konsep fisika kuantum. Bukan saja ilustrasi itu sangat
menolong, karena membumi bahkan personal, tetapi di tingkat psikologis
sang mahasiswa merasa dilibatkan, bahkan dijadikan bintang pada momen
pendek itu. Tak pelak kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi. Fisika
kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik
ditelusuri.

Pak Hariadi sangat jauh dari jenis dosen yang memetik rasa puas karena
pelajarannya sukar diikuti. Ia bukan tipe dosen yang berbahagia
melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu takut pada dosennya, dan
jeri
 pada
pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya apalagi
 killer.
Ia memenuhi  tanda-tanda orang cerdas seturut pendapat Einstein: bahwa
orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah
dipahami, sedangkan orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi
sukar dimengerti. Fokus kedosenan Pak Hariadi ialah bagaimana agar
mahasiswanya bisa mudah memahami pelajarannya supaya dengan begitu
tumbuh gairah, minat, dan kecintaan pada pelajaran itu sendiri. Jadi,
sebenarnya tidak mengherankan saya bisa medapat nilai A.

Sesampai di Sidikalang, saat libur panjang semester, sensasi
kebanggaan mendapat nilai A itu masih terus berdenyut. Tak tahan, saya
pun menulis sepucuk surat kepada Pak Hariadi. Saya ungkapkan rasa
syukur dan terima kasih saya dan khususnya kedahsyatan cara
mengajarnya saya apresiasi dengan rinci.

Eh, surat saya dibalasnya dengan cepat. Katanya dari sekitar 30
mahasiswa yang mendapat nilai A, cuma saya yang menulis surat. Gantian
dia yang berterima kasih. Di ujung suratnya, sesudah menitipkan salam
kepada orangtua saya, dia mengundang saya ke kantornya usai libur.
 Waktu
itu Pak Hariadi adalah Dekan Fakultas MIPA. ”Saya ingin mengenal
 Saudara
lebih dekat.” katanya.

Tak sabar saya menunggu waktu untuk kembali ke Bandung. Berhubung kopi
Sidikalang sudah disebut-sebut di awal kuliah, itu pula oleh-oleh yang
saya bawa buat beliau. Ketika orangtua saya tahu kisah dosen yang
istimewa ini, Ibu saya mengusulkan memberikan ulos sebagai
cinderamata. Ulos dan kopi, itulah yang kemudian saya bawa ke Bandung.

Ke kantor dekan F-MIPA, saya pun menghadap. Di ujung percakapan, tanpa
saya duga, Pak Hariadi meminta agar saya bersedia menjadi asistennya.
Terhenyak saya. Tubuh ini mendadak ringan rasanya, seperti kapas di
awang-awang layaknya. Tak berpikir panjang tawaran itu segera saya
sambut.

Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa ulos sebagai cinderamata,
dia sempat tertegun lalu berkata, ”Wah, istri saya harus ikut
bersama saya menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat
tinggi.”


Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi di perumahan dosen Sangkuriang,
saya pun menjadi tamu keluarga, diundang makan malam bersama, dan
kemudian bercakap-cakap dengan akrab. Di situlah ulos dan kopi
Sidikalang saya serahkan.

Sampai akhirnya saya tamat pada akhir 1983––saat itu Pak Hariadi
 sudah
menjabat sebagai Rektor ITB––saya terus membantunya sebagai
asisten kuliah fisika kuantum.

Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya sesudahnya merupakan
salah satu pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting buat
saya selama kuliah di ITB Bandung.

Kini saya berpendapat, andai kata semua guru matematika, fisika,
kimia, dan biologi di tingkat sekolah lanjutan di negeri ini sanggup
mengajar secerdas dan sebaik Pak Hariadi, niscaya mata pelajaran-mata
pelajaran keras itu tidak akan pernah jadi momok buat anak-anak muda
kita.
 Bahkan, matematika dan sains akan jadi mata pelajaran favorit.
Andaikan saya bisa jadi guru yang inspirasional...

Posted at 05:23 am by AnnaSS

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home



AnnaSS


An ordinary Indonesian girl who lives her life for study.
   

<< November 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed