Oleh JANSEN H. SINAMO
JAM tujuh pagi, suatu hari pada tahun 1981, di sebuah ruang kuliah
kuno bersuasana gelap dan kelam, yang dibangun pada zaman Belanda,
sebuah kuliah fisika yang sangat modern segera akan dimulai. Fisika
kuantum nama kuliah itu.
Hariadi Paminto Soepangkat—doktor fisika zat padat lulusan
Universitas
Purdue, Indiana, AS—sang dosen yang berkulit putih bersih bertubuh
tinggi besar yang dibalut busana rapi lengkap pakai dasi bak eksekutif
bisnis itu, telah berdiri penuh wibawa di hadapan sekitar 150
mahasiswa dari tiga jurusan: fisika, astronomi, serta geofisika dan
meteorologi.
Belum dua puluh menit kuliah berjalan, usai Pak Hariadi menggambar
orbit-orbit lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis,
tiba-tiba nama saya dia panggil.
”Saya, Pak,” jawab saya agak terkejut sambil mengangkat tangan.
”Kota asal Saudara di mana?” tanyanya sambil menuruni panggung
kuliah
yang rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati tempat saya duduk
di barisan depan.
”Sidikalang, Pak,” jawab saya.
”Oh ya? Kata Pak Andi Hakim Nasution, Rektor IPB, daerah Saudara
penghasil kopi ya? Kopi Sidikalang enak kata Pak Nas. Betul?”
”Betul, Pak,” jawab saya sumringah.
”Sidikalang itu berapa kilometer jaraknya dari Medan?”
”Seratus lima puluh kilo Pak.”
”Kalau naik bis ke Medan berapa ongkosnya?”
”Lima ribu, Pak.”
”Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?”
“Berastagi, Pak.”
Sambil memandang kepada semua mahasiswa sesudah kembali ke panggung
kuliah, Pak Hariadi berkata, “Kira-kira seperti inilah yang dimaksud
dengan energi ambang. Jika uang Saudara Jansen cuma tiga ribu, itu
tidak
cukup mengantarnya sampai ke Medan. Jadi, lima ribu adalah uang ambang
yang diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang.”
“Nah, demikian pula elektron: dia butuh energi ambang, itu energi
yang
minimum, untuk bisa pindah ke orbit yang lebih tinggi. Kita sudah tahu
bahwa energi itu tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya
terkuantifikasi. Paket-paket energi yang terkuantifikasi ini dalam
bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta energi, yang besarnya
menurut Max Planck adalah hv, di mana v frekuensi radiasi itu dan h
adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626×10-pangkat- minus-34
joule-detik. Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat
kuanta ini. Tidak hanya pada elektron tetapi juga foton dan semua
zarah renik di tingkat subatom. Inilah asal-usul nama kuantum pada
fisika kuantum yang kita pelajari ini. Fisika kuantum mempelajari
perilaku zarah-zarah subatomik, dinamika dan interaksinya, serta
relasinya
dengan
medan yang memengaruhinya.”
Entah apa lagi yang dikuliahkan Pak Hariadi pagi itu saya sudah lupa.
Tapi, saya terpesona sudah. Sidikalang dan saya jadi pusat perhatian
seluruh kelas dan terutama Pak Hariadi. Cuma beberapa menit saja
sorotan
lampu perhatian itu, tapi sudah cukup membuat saya merasa diri
spesial.
Dan sejak momen itu rasa suka saya berlipat ganda kepada Pak Hariadi.
Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada fisika kuantum.
Singkat cerita, pada ujian akhir semester itu saya mendapat nilai A.
Dan ini tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di kelas
saya angkatan 1978, saya cuma mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai
saya adalah C, agak lumayan dapat B, tapi yang mendapat nilai A
sungguh sangat sedikit.
Tapi, mendapat nilai A pada fisika kuantum selangit rasanya. Buat saya
itu setara dengan nilai A pada sepuluh mata kuliah yang lain. Fisika
kuantum adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan
Fisika, kreditnya maksimum: empat. Bukan cuma itu, di zaman itu, cuma
ada dua mata kuliah fisika yang dianggap dahsyat: fisika kuantum dan
teori relativitas. Yang terakhir ini belum disajikan di tingkat S1.
Fisika kuantum pun sebenarnya baru cuma pengantar pada kuliah sepenuh:
mekanika kuantum, yang akan disajikan nanti di tingkat S2.
Saya juga takjub pada diri sendiri. Mengapa mendadak saya jadi pintar
sekali? Tapi, saya akhirnya menyadari: itu semua karena cara dan gaya
Pak Hariadi mengajar kami memang luar biasa.
Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum jam
kuliah dimulai. Di hampir semua mata kuliah lain, mahasiswa yang
menunggu dosen. Tapi Pak Hariadi sebaliknya.
Pak Hariadi selalu tampil necis: busananya, kebersihannya, dan
istimewa tulisannya. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain
lap basah yang dibawanya dari kantornya. Ada tiga papan tulis di kelas
kami. Dibersihkannya dulu papan tulis ketiga saat dia mulai memakai
papan tulis pertama, sehingga papan tulis ketiga itu sudah kering saat
dia akan memakainya. Demikian seterusnya sampai kuliahnya yang
berdurasi
100
menit itu selesai.
Lima tahun saya kuliah di ITB, tidak pernah saya bertemu dengan dosen
lain yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak
Hariadi.
Pak Hariadi juga pekerja cepat. Hari ini ujian, besoknya jawaban
soal-soalnya sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika
hanya Pak Hariadi yang mampu dan disiplin berbuat demikian.
Dia pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap kuliah
ia
mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan seperti saya di atas
setiap mahasiswa yang terpilih namanya disebut diajaknya berinteraksi.
Dan dari interaksi pendek itu, tiba-tiba bisa keluar ilustrasi untuk
menjelaskan konsep fisika kuantum. Bukan saja ilustrasi itu sangat
menolong, karena membumi bahkan personal, tetapi di tingkat psikologis
sang mahasiswa merasa dilibatkan, bahkan dijadikan bintang pada momen
pendek itu. Tak pelak kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi. Fisika
kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik
ditelusuri.
Pak Hariadi sangat jauh dari jenis dosen yang memetik rasa puas karena
pelajarannya sukar diikuti. Ia bukan tipe dosen yang berbahagia
melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu takut pada dosennya, dan
jeri
pada
pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya apalagi
killer.
Ia memenuhi tanda-tanda orang cerdas seturut pendapat Einstein: bahwa
orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah
dipahami, sedangkan orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi
sukar dimengerti. Fokus kedosenan Pak Hariadi ialah bagaimana agar
mahasiswanya bisa mudah memahami pelajarannya supaya dengan begitu
tumbuh gairah, minat, dan kecintaan pada pelajaran itu sendiri. Jadi,
sebenarnya tidak mengherankan saya bisa medapat nilai A.
Sesampai di Sidikalang, saat libur panjang semester, sensasi
kebanggaan mendapat nilai A itu masih terus berdenyut. Tak tahan, saya
pun menulis sepucuk surat kepada Pak Hariadi. Saya ungkapkan rasa
syukur dan terima kasih saya dan khususnya kedahsyatan cara
mengajarnya saya apresiasi dengan rinci.
Eh, surat saya dibalasnya dengan cepat. Katanya dari sekitar 30
mahasiswa yang mendapat nilai A, cuma saya yang menulis surat. Gantian
dia yang berterima kasih. Di ujung suratnya, sesudah menitipkan salam
kepada orangtua saya, dia mengundang saya ke kantornya usai libur.
Waktu
itu Pak Hariadi adalah Dekan Fakultas MIPA. ”Saya ingin mengenal
Saudara
lebih dekat.” katanya.
Tak sabar saya menunggu waktu untuk kembali ke Bandung. Berhubung kopi
Sidikalang sudah disebut-sebut di awal kuliah, itu pula oleh-oleh yang
saya bawa buat beliau. Ketika orangtua saya tahu kisah dosen yang
istimewa ini, Ibu saya mengusulkan memberikan ulos sebagai
cinderamata. Ulos dan kopi, itulah yang kemudian saya bawa ke Bandung.
Ke kantor dekan F-MIPA, saya pun menghadap. Di ujung percakapan, tanpa
saya duga, Pak Hariadi meminta agar saya bersedia menjadi asistennya.
Terhenyak saya. Tubuh ini mendadak ringan rasanya, seperti kapas di
awang-awang layaknya. Tak berpikir panjang tawaran itu segera saya
sambut.
Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa ulos sebagai cinderamata,
dia sempat tertegun lalu berkata, ”Wah, istri saya harus ikut
bersama saya menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat
tinggi.”
Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi di perumahan dosen Sangkuriang,
saya pun menjadi tamu keluarga, diundang makan malam bersama, dan
kemudian bercakap-cakap dengan akrab. Di situlah ulos dan kopi
Sidikalang saya serahkan.
Sampai akhirnya saya tamat pada akhir 1983––saat itu Pak Hariadi
sudah
menjabat sebagai Rektor ITB––saya terus membantunya sebagai
asisten kuliah fisika kuantum.
Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya sesudahnya merupakan
salah satu pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting buat
saya selama kuliah di ITB Bandung.
Kini saya berpendapat, andai kata semua guru matematika, fisika,
kimia, dan biologi di tingkat sekolah lanjutan di negeri ini sanggup
mengajar secerdas dan sebaik Pak Hariadi, niscaya mata pelajaran-mata
pelajaran keras itu tidak akan pernah jadi momok buat anak-anak muda
kita.
Bahkan, matematika dan sains akan jadi mata pelajaran favorit.
Andaikan saya bisa jadi guru yang inspirasional...
Pengantar: Tulisan ini dan beberapa tulisan lainnya adalah hasil dari
workshop Matematika Keuangan ITB tahunan yang diadakan pada tanggal
28 30 Juni 2007.
Dengan perkembangan dunia investasi, keterlibatan publik untuk memiliki
saham dari perusahaan yang go public
sangat diharapkan. Namun salah satu sifat dari harga saham adalah berfluktuasi
sehingga tidak diketahui apakah kita mendapat keuntungan saat membeli saham dan
menjualnya kembali. Perlu ada semacam asuransi atau jaminan dari portofolio
atau investasi yang dimiliki yang menjamin bahwa kita tidak akan mengalami
kerugian besar apabila pada suatu periode harga saham merosot tajam. Adakah
jaminan semacam itu?
Peran Opsi Put
Portofolio adalah instrumen keuangan yang menyebutkan satu atau beberapa
saham yang dimiliki oleh si pemegang portofolio. Untuk menjamin nilai suatu
saham atau portofolio yang dimiliki, si pemegang saham dapat membeli semacam
asuransi yang menjamin sahamnya akan dibeli dengan harga tertentu. Si pemegang
saham dapat membeli opsi Put, yaitu
suatu hak bukan kewajiban dari pembeli Put untuk menjual satu saham dengan
harga tertentu pada waktu tertentu.
Misalnya, kita membeli satu saham suatu perusahaan seharga Rp 500 pada hari
ini dan membeli satu opsi Put yang
disediakan oleh perusahaan itu. Put
tersebut menyatakan apabila kita dapat menjual sahamnya tahun depan seharga Rp
450, yang disebut Exercise/Strike Price.
Apabila tahun depan harga saham menjadi Rp 300, kita dapat meng-eksekusi put
dengan menjual saham kita pada perusahaan tadi seharga Rp 450. Kita hanya
kehilangan Rp 50, bukan Rp 200. Apabila tahun depan harga saham Rp 600, kita
tidak perlu meng-eksekusi Put. Yang
kita dapat lakukan adalah menjual saham tersebut di pasar saham seharga Rp 600,
sehingga mendapat keuntungan Rp 100. Jadi dengan membeli Put, kita mendapat jaminan bahwa saham kita paling rendah berharga
Rp 450, tidak bisa lebih rendah dari nilai itu.
Put tidak tersedia
Jaminan agar dapat harga saham dicegah bernilai terlalu rendah pada saat
dijual dapat diperoleh dengan membeli opsi Put.
Apabila kita tengok data saham perusahaan-perusahaan terkenal di dunia dari Yahoo!finance, banyak yang menyediakan Put, seperti Apple Inc., IBM, McDonalds
corp., International Paper co. dan lain-lain. Sayangnya, banyak perusahaan
hanya menjual saham dan belum menyediakan opsi untuk dijual, termasuk
perusahaan-perusahaan besar Indonesia yang sudah menjual saham di bursa market
New York atau London. Apakah
ini berarti kita tidak bisa mendapatkan jaminan atas saham
perusahaan-perusahaan itu?
Ada cara lain untuk melindungi nilai saham yang diinvestasikan pada
perusahaan-perusahaan yang tidak menjual opsi. Strategi untuk melindungi nilai
saham ini pertama kali diciptakan oleh seorang akademisi Hayne Leland tahun
1976 setelah terjadinya suatu kerugian besar di pasar saham karena turunnya
harga saham. Strategi ini adalah untuk mereplikasi suatu opsi Put dengan suatu strategi dinamis di
mana banyaknya investasi
di asset beresiko (pada portofolio) dan banyaknya investasi pada Bond atau Obligasi tak beresiko berubah sepanjang waktu untuk meniru return
dari opsi Put option. Bond atau obligasi adalah surat hutang
yang dikeluarkan oleh pemerintah atau perusahaan yang berjanji untuk mengembalikan
uang tersebut pada suatu waktu yang akan datang dan ditambah interest / bunga. Strategi replikasi ini adalah bagian utama
dari asuransi portofolio ini.
Pada gambar 1 diberikan grafik simulasi apabila strategi jaminan atas
investasi ini diterapkan pada saham Apple Inc. dari tanggal 3 Juli 2006 sampai
29 Juni 2007. Harga saham Apple Inc. cenderung naik dari semula US$ 57.95
menjadi US$ 122.04. Misalnya pada tanggal 3 Juli 2006 kita menerapkan strategi
dengan investasi awal US$ 1000 dan strike price US$ 60 per lembar. Pada gambar
terlihat investasi kita bergerak sesuai dengan pergerakan saham, yaitu menjadi
US$ 1851 pada tanggal 29 Juni 2007. Jadi nilai portofolio dengan jaminan ini mengikuti
kenaikan harga saham.
Gambar 1
Apabila keadaan sebaliknya terjadi,
misalnya harga saham Apple Inc. semula US$ 122.04 cenderung turun menjadi US$ 57.95, apakah yang terjadi dengan nilai protofolio
kita? Pada gambar 1 diberikan simulasi apabila hal ini terjadi dengan Strike
Price US$ 90.
Gambar 2
Walaupun harga turun sampai dua
kali lipat, nilai investasi pada portofolio tidak mengikuti harga saham. Ini
terlihat pada ujung kanan Gambar 2 dimana nilai investasi apabila hanya membeli
saham adalah US$ 579.5 tetapi nilai portofolio dengan strategi jaminan adalah
US$ 735.64. Dengan strategi jaminan
ini, semua investasi dimasukkan sebagai tabungan bank pada keadaan harga saham
sangat jatuh. Dengan demikian strategi asuransi ini bermanfaat dalam melindungi
nilai investasi. Cara perhitungan strategi ini dapat dilihat pada tulisan Perhitungan Jaminan atas Investasi.
Dalam berinvestasi, usaha untuk
mendapat jaminan agar dapat harga saham dicegah bernilai terlalu rendah pada
saat dijual dapat diperoleh dengan membeli opsi Put. Bagaimana halnya bila opsi Put
tidak disediakan oleh perusahaan yang menjual saham? Ada cara lain, yaitu strategi mereplikasi atau
meniru sifat dari opsi Put. Pada
tulisan ini dibahas mengenai perhitungan untuk mewujudkan strategi ini.
Strategi untuk mereplikasi sifat
opsi Put didapat dengan menganalisis
rumus Matematika untuk menentukan harga Put. Salah satu cara untuk menentukan
harga Put adalah melalui rumus
Black-Scholes, yang dipublikasikan di The
Journal of Political Economy tahun 1973 dan mendapat penghargaan Nobel
bidang ekonomi tahun 1997. Sayangnya
Black tidak dapat menerima langsung penghargaan ini karena sudah meninggal dua
tahun sebelumnya.
Rumus Black-Scholes menyatakan bahwa harga suatu Call adalah perhitungan yang melibatkan harga saham sekarang dikali
dengan faktor acak dikurangi dengan nilai Strike
Price yang dikali dengan suatu fungsi eksponensial berpangkat negatif dan
faktor acak. Setelah dapat ditentukan nilai Call,
kita menggunakan teori Put-Call Parity
yang menentukan hubungan antara nilai Call
dan Put. Dengan demikian harga Put ditentukan secara tidak langsung
oleh rumus Black-Scholes.
Total investasi harus terbagi dalam pembelian saham dan tabungan bank, atau
dinyatakan dalam hubungan sebagai berikut:
Investasi = ω saham + (1-ω) tabungan bank
Nilai dari ω(omega) diubah-ubah mengikuti perkembangan harga saham, misalnya diubah
pada tiap awal pekan. Perhatikan contoh berikut.
Misal uang sebesar US$ 1000 diinvestasikan untuk membeli saham Apple Inc.
yang sekarang pada hari Senin berharga US$ 57.95 per
lembar. Apabila kita memakai uang investasi seluruhnya untuk membeli saham maka
jumlah saham yang dibeli akan 1000/57.95 = 17.26 lembar.
Kita akan mencoba mereplikasi opsi Put
berperiode satu tahun dengan Strike Price US$ 60 per lembar. Artinya, setelah
satu tahun harga saham per lembar tidak boleh lebih rendah dari US$ 60. Menurut
perhitungan, sebaiknya sebanyak ω = 55.09% dari investasi
(atau US$ 550.9) dibelikan saham dan (1- ω) = 44.91% investasi
(atau US$ 449.1) di masukkan dalam tabungan. Jadi saham yang dibeli sebanyak
550.9/57.95 = 9.51 lembar.
Pada hari Jumat, atau akhir minggu ke-0, kita menghitung harga portofolio
yang dipunyai. Misalnya harga saham pada penutupan adalah US$ 70. Karena saham
yang dimiliki sejumlah 9.5, maka investasi pada saham akan menjadi 9.5 dikali US$
70 sama dengan US$ 665. Uang yang tersimpan dalam bank akan berkembang sesuai
dengan bunga bank pada saat sekarang, misalnya 8% pertahun atau 0.15% per bulan.
Uang yang tersimpan menjadi US$ 449.1 dikali 1.0015 sama dengan US$ 449.79.
Harga total portofolio yang kita miliki adalah US$ (665+ 449.79) = US$ 1114.79,
atau naik US$ 114.79 dari investasi awal.
Pada hari Senin, atau awal minggu depannya yang disebut minggu ke-satu,
perlu dilakukan rebalancing dari
investasi yang dimiliki. Dengan menghitung nilai ω yang baru dengan harga saham awal US$ 70 dan Strike Price tetap US$ 60,
proporsi baru untuk saham adalah ω = 74.61%, sehingga saham yang dibeli 74.61% dikali US$
1114.79 sama dengan US$ 831.70 atau 11.88 lembar saham. Uang yang ditabung
dalam bank menjadi 25.39% atau US$ 238.09.
Misalkan pada akhir minggu ke-1 harga saham turun menjadi US$ 50. Apakah
yang terjadi dengan harga portofolio kita? Karena kita punya 11.88 lembar
saham, uang pada saham akan sebesar11.88
dikali US$ 50 = US$ 549 . Sedangkan uang yang ditabung menjadi US$ 238.09 dikali
1.0015 = US$ 238.45. Total harga portofolionya adalah US$ (549+238.45) = US$ 832.45 atau turun US$ (114.79-167.55)=
US$ -52.76 dari investasi awal.
Apabila
semula kita hanya membeli 17.26 lembar saham saja maka investasi yang kita
punya menjadi 17.26 dikali US$ 50 = US$ 863 atau rugi sebesar
US$ 137 dari investasi awal. Kerugian ini hampir tiga kali lipat dari kerugian
apabila melakukan asuransi pada portofolio.
Pada gambar 1 diberikan rangkuman
dari perhitungan di atas.
Minggu
Saham awal mnggu ($)
Omega
Ω (%)
Saham
($)
Obli-
gasi ($)
Porto- folio ($)
Saham akhir mnggu ($)
Saham
($)
Obli-
gasi ($)
Porto- folio ($)
0
57.97
55.09
550.9
449.1
1000
70
665
485.79
1114.79
1
70
74.61
831.70
238.09
1114.79
50
594
238.45
832.45
2
50
38.08
317
515.45
832.45
?
?
?
?
Awal minggu ke-2 dilakukan rebalancing dengan menghitung nilai ω yang baru sesuai dengan harga saham pada akhir minggu. Pada tabel terlihat
nilai ω = 38.08% , berarti turun dari prosentase
sebelumnya.
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa apabila harga saham cenderung turun maka
tindakan yang bijaksana adalah mengurangi jumlah saham yang dibeli dan
menaikkan investasi dalam tabungan bank. Dengan jalan ini, investasi tidak
jatuh sekali mengikuti harga saham yang terpuruk. Perhitungan di atas
menggunakan program komputer Excel.
Dalam suatu pertemuan, salah seorang kolega dosen mengeluhkan hasil kuesioner kuliah yang diasuhnya. Salah satu pertanyaan persetujuan dalam kuesioner, yaitu apakah dosen pernah mewakilkan kuliahnya pada orang lain, dijawab ragu-ragu. Padahal sudah pasti tidak ada muka lain selain dosen tersebut yang muncul mengajar dalam matakuliah itu selama satu semester penuh. Pertanyaan persetujuan mengenai apakah pemberian nilai melalui evaluasi dilakukan lebih dari satu kali dijawab tidak setuju oleh mahasiswanya. Kenyataannya kuliah itu dirancang sejak awal dengan sejumlah evaluasi yaitu UTS1, UTS2, UAS, ditambah dengan Kuis dan PR. Mengapa pertanyaan mengenai suatu kenyataan yang sudah pasti harus dijawab ragu-ragu atau malah bertentangan dengan kenyataan?
Kontroversi tentang manfaat kuesioner sebagai feedback dari mahasiswa untuk menilai bagaimana kinerja dosen dalam mengelola perkuliahan sudah berlangsung sejak lama. Alasan kesetujuan diadakan kuesioner ini sudah jelas, yaitu untuk mengetahui seberapa besar usaha yang dilakukan dosen di mata mahasiswa. Nilai akhir mahasiswa tidak cukup untuk melihat hasil kinerja dosen. Akan tetapi, banyak dosen yang merasa tidak berguna memberi peluang kepada mahasiswa untuk menilai dosen, karena penilaian akan sangat subyektif, sangat bergantung terhadap faktor kemampuan dan usaha mahasiswa sendiri dalam mengikuti perkuliahan ini. Contohnya, mahasiswa yang memang malas belajar dan memakai waktunya untuk keperluan lain akan memberi penilaian jelek, seperti cara dosen menerangkan tidak enak sama sekali, dosen tidak punya persiapan, dosen tidak melakukan evaluasi selain dari ujian, dan lain-lain.
Sejak awal penulis berpendapat sama dengan golongan yang pertama, yaitu mempercayai bahwa masukan dari mahasiswa juga diperlukan untuk memperbaiki proses perkuliahan. Namunkadang-kadang kita belum bisa memberi kepercayaan penuh bahwa mahasiswa akan berkata jujur. Oleh karena itu pengisian kuesioner dapat menjadi proses pemberlajaran mahasiswa untuk menjadi orang dewasa, yaitu yang dapat mempertanggungjawabkanapa saja yang dia lakukan. Yang perlu dimiliki mahasiswa untuk dapat menjawab kuesioner dengan bertanggung jawab adalah dapat mengukur seberapa besar usaha dosen yang sudah dilakukan untuk kelasnya terlepas dari seberapa besar usaha yang sudah ia lakukan untuk mengikuti proses perkuliahan dengan benar.
Seorang mahasiswa harus dapat mengukurusaha maksimal dosen yang mengajar suatu matakuliah, misalnya dengan adanya persiapan slide setiap kuliah, memberi PR dan kuis, memberi feedback terhadap soal-soal ujian, memberi responsi soal-soal, memberi kesempatan pada mahasiswa untuk bertanya, dan sebagainya. Namun kebetulan keadaan sang mahasiswa sendiri yang tidak mendukung, misalnya terlalu banyak menggunakan waktu untuk bermain dengan teman, sakit selama beberapa waktu, tidak sempat mengerjakan PR, tidak pernah belajar sebelum kuliah, dan sebagainya. Dalam kuesioner, mahasiswa yang dewasa akan mengatakan sebenarnya yaitu usaha dosen sudah maksimal. Sama halnya apabila dosen sama sekali tidak pernah memberi kuis dan PR, jarang memberi kuliah, tidak memberi kesempatan untuk bertanya setiap kuliah dan sebagainya, namun karena sang mahasiswa dapat belajar mandiri di rumah dan memperoleh nilai yang baik, ia harus mengatakan bahwa manajemen pengajaran dosennya memang buruk.
Untuk memilih antara menjadi dewasa atau tidak, mahasiswa harus diberi pengertian bahwa hasil kuesioner ini sangat berarti dalam meningkatkan kualitas proses perkuliahan, apabila kepercayaan terhadap hasil kuesioner tinggi. Dengan demikian, apabila mahasiswa memilih untuk tidak berkata jujur, dengan kata lain tidak dewasa, dalam menajwab pertanyaan, maka pengadaan kuesioner adalah sia-sia belaka, dan proses perkuliahan tidak dapat meningkat kualitasnya dengan baik. Secara keseluruhan, system perkuliahan akan dirugikan dengan tidak dewasanya mahasiswa.
Untuk mengetahui bahwa mahasiswa sudah dewasa atau belum, kita dapat mencek jawaban dari pertanyaan yang terkuantifikasi dengan jelas. Misalnya jumlah evaluasi yang dilakukan dosen untuk menilai mahasiswa, jumlah kehadiran dosen dan sebagainya. Untuk hal-hal yang bersifat kualitatif, seperti kemampuan dosen untuk menyampaikan materi dan cara mengajar, memang tidak dapat dipakai sebagai alat pengecekan.
Berikut ini adalah hasil kuesioner dari kuliah yang penulis asuh. Ada sebanyak 37 mahasiswa yang mengisi kuesioner dari 42 nama yang terdaftar. Pertanyaan kuesioner yang diajukan adalah sebagai berikut:
A. Kemampuan Dosen
1. Dosen menguasai materi perkuliahan dengan baik.
2. Dosen berkomunikasi/menyampaikan kuliah dengan baik.
B. Komitmen Dosen
3. Dosen selalu hadir dan menggunakan waktu kuliah dengan baik
4. Dosen tidak mewakilkan kepada orang lain atau mengganti jadwal kuliah
C. Sikap Dosen
5. Dosen mempersiapkan kuliah dengan baik.
6. Dosen bersikap responsif, bersedia berdiskusi, dan memberi umpan balik
D. Penyelenggaraan Kuliah
7. Dosen menjelaskan tujuan, rencana materi kuliah, dan buku acuan yang bermanfaat
8. Beban kuliah yang diberikan sesuai dengan SKS yang dialokasikan.
10. Anda menguasai/mengerti materi kuliah setelah mengikuti kuliah ini.
F. Kehadiran Mahasiswa
11. Tingkat kehadiran anda dalam kuliah ini tinggi
Pilihan jawaban yang disediakan adalah sebagai berikut:
1. Setuju dengan pendapat tersebut
2. Cenderung setuju dengan pendapat tersebut
3. Ragu-ragu antara setuju dan tidak setuju
4. Kurang setuju dengan pendapat tersebut
5. Tidak setuju sama sekali dengan pendapat tersebut
Sebelum mengetahui hasil kuesioner, penulis ingin menjawab sendiri untuk menganalisis kemampuan diri sendiri. Pertanyaan yang dapat dijawab 1 dengan pasti adalah pertanyaan 4, 7, 9, yaitu tidak pernah ada dosen pengganti, adanya tujuan, rencana dan buku acuan yang jelas dan alat evaluasi lebih dari satu yaitu Kuis, PR, UTS1, UTS2 dan UAS. Jawaban Kuis dan PR diketik dengan rapi dan dicantumkan dalam website sehingga mahasiswa dapat mengaksesnya kapan saja.
Pertanyaan 1 dan 2 bersifat kualitatif, penulis merasa akan memperoleh jawaban 1 atau 2. Untuk pertanyaan 3, penulis mengakui meliburkan 2 x 1 jam kuliah, namun hal ini untuk menyamakan jumlah pertemuan untuk kelas lain yang kebetulan banyak libur nasional pada jadwal kuliahnya. Kelas ini adalah satu bagian dari kelas parallel sehingga kesamaan banyaknya materi yang diajarkan sangat diperlukan.
Pertanyaan 6 dapat dijawab 1 atau 2 karena penulis merasa sudah memberi kesempatan bertanya dengan seluas-luasnya. Bahkan ada suatu peristiwa dalam responsi di mana seorang mahasiswa minta untuk sekali lagi diterangkan nomor soal sebelumnya, padahal penulis sedang menerangkan soal selanjutnya. Gemuruh mahasiswa mencemooh mahasiswa tersebut, namun penulis tidak berkeberatan untuk menerangkan kembali tanpa memiliki perasaan negatif.
Secara keseluruhan, nilai rata-rata yang didapat untuk setiap pertanyaan adalah sbb:
2.5
3.4
2.2
1.9
2.4
2.7
2.9
2.8
2.2
3.3
1.8
Nilai kesetujuan tertinggi pada pertanyaan 8, yaitu kehadiran mahasiswa, dan pertanyaan 2 yaitu tidak pernah ada orang lain yang mengganti untuk mengajar.
Untuk pertanyaan 8, terdapat 43% yang menjawab setuju sekali bahwa tingkat kehadirannya dalam kuliah ini tinggi. Penulis mencek dari daftar hadir, ternyata hanya 4,7% mahasiswa yang kehadirannya 100%, dan 14% yang pernah bolos sekali, 18,6% yang pernah bolos 2 kali.Prosentase kehadiran dengan bolos maksimal 2 kali adalah 37,3%, berbeda dengan pengakuan dari 43% mahasiswa. Bahkan hampir 90% mahasiswa mengakui setuju dan cenderung setuju.
Jawaban cenderung setuju mendominasi jawaban terhadap pertanyaan 9, yaitu pemberian nilai melalui evaluasi yang dilakukan lebih dari satu kali. Kenyataannya sudah disebutkan bahwa terdapat sekian banyak perangkat untuk evaluasi. Hanya 40,5% mahasiswa yang dengan penuh yakin setuju pada pernyataan tersebut.
Tingkat kesetujuan yang sama dengan pertanyaan 9 ditunjukkan dalam jawaban dari pertanyaan 3, yaitu dosen selalu hadir dan menggunakan waktu kuliah dengan baik, yaitu 2,2. Untuk kasus ini jawaban tersebut adalah wajar karena alasan yang telah dituliskan sebelumnya.
Nilai terjelek yang diperoleh adalah untuk pertanyaan no. 2, yaitu dosen berkomunikasi/menyampaikan kuliah dengan baik, dan no. 10, yaitu mahasiswa menguasai/mengerti materi kuliah setelah mengikuti kuliah ini. Jawaban ragu-ragu untuk kedua pertanyaan tersebut tidak dapat dicek kebenarannya karena merupakan pengukuran kualitatif, namun penulis menganggap bahwa hal tersebut mungkin benar sehingga menjadi bahan perbaikan untuk cara berkomunikasi dalam mengajar pada masa yang akan dating, dengan harapan dapat meningkat kepercayaan diri mahasiswa dalam memahami materi yang telah diajarkan.
Dengan membaca artikel di atas, dapatkah anda menilai kedewasaan mahasiswa di kelas yang diasuh penulis?
It was 6 July 2005 when London won the bid to become the host of 2012 Olympic Games. The celebration officially had taken place in Trafalgar Square in the morning but the crowd were still there until evening. I still got a chance to take about 30 minutes journey from my flat by bus and be there to feel the festive joy. The proud of London feeling was in the air all day. Unfortunately, it didn't last longer when the world was shocked by four bom blasts in London's public transportation. This might be the reason I almost forgot these pictures. Enjoy it.
"Thank You" message from Londoners and perhaps also "Sorry" message for Parisians :-)
They were proud of being Londoners by waving the England Flag, Cross of Saint George. TV crews were there all day to broadcast directly from the place.
The crowd was not as much as in the morning. Be There Done That... with a little hope and luck that your picture will be in the tomorrow's papers. Eventually I realized that most of them wanted to be taken pictures by reporters, profesional or amateur ones.
I didn't forget to have a snap photo of Mark Austin, an award-winning ITV presenter, who posed for a small group of fans wailing his name.
Dalam ruangan yang cukup lebar namun penuh sesak dengan kerumunan orang-orang, dewasa maupun anak kecil, tiba-tiba saya yang sedang duduk sendirian di bangku panjang di pinggir ruangan, melemparkan pertanyaan kuis dari saya untuk diri saya sendiri. Melihat begitu ributnya suasana dan cahaya remang-remang, cuaca sore di luar ruangan agak gelap ditambah hujan yang mengguyur, pikiran saya membersitkan pertanyaan:" Saat ini, di tempat mana di London, yang banyak dipenuh-sesaki oleh orang-orang bule dewasa dan anak-anak?"
Mungkin pertanyaan ini cukup aneh. Pertama, lingkup tempatnya sudah jelas, yaitu tempat di London, di mana orang-orang Inggris, yang jelas bule, tinggal. Pikiranku pun mulai mencari-cari pembenaran dari pertanyaan yang saya buat sendiri itu. Kita sudah menyadari, bukan hal yang aneh di London, terutama Central London, untuk melihat banyak kerumuman orang-orang selain bule: India, Afrika, Yahudi, Arab, Cina, Malaysia, Indonesia, dll. China Town banyak disinggahi orang Cina, Edgware road dan daerah Gloucester Road banyak orang Arab bermukim, daerah Barnet adalah salah satu pemukiman orang Yahudi, Ealing Broadway tempat segala pernak-pernik orang India dijual, dan daerah Hackney adalah salah satu pemukiman orang-orang hitam dari Afrika. Kalau mau ditambah, daerah Hendon adalah tempat favourite bagi orang-orang Indonesia, terutama yang bekerja di KBRI, untuk tinggal (walaupun eksistensi mereka belum nampak nyata dibanding dengan komunitas lainnya). Demikian juga jumlah orang Malaysia yang tinggal di London tentunya sudah sangat banyak namun tempat tinggal komunitasnya kurang tampak nyata.
Alasan kedua mengapa saya melemparkan pertanyaan di atas ya karena saya sudah tahu jawabannya. Sah-sah saja kan membuat pertanyaan dari dan untuk diriku sendiri? Apalagi saat itu saya saat itu sedang melamun tidak ada yang bisa dilakukan kecuali termangu-mangu menunggu teman yang belum kunjung datang. Ya maklum saja sedang kurang kerjaan :-).
"Di Science Museum London" adalah jawaban dari pertanyaan kuis KK (Kurang Kerjaan) di atas. Pertanyaan yang dipicu oleh banyaknya kelompok-kelompok bule yang disekelilingku, seorang ibu dengan satu atau dua anak, dan tak jarang ditemani ayahnya. Perhatianku tersedot pada seorang anak yang setengah berlari keluar dari pintu dalam museum sambil berseru dalam medok Inggris," Mom, can I go to the store?", dan tanpa mempedulikan jawaban dari ibunya, dia sudah berlari masuk toko yang berada dalam museum. Toko itu menjual berbagai souvenir museum, buku-buku anak-anak dan orang dewasa, dan juga berbagai mainan scientific, yaitu memakai dan mengajarkan kaidah ilmu fisika namun dikemas secara menarik. Si Ibu terlihat agak terkejut . Sambil menuntun adik dari anak lelaki tadi, ia berteriak bahwa mereka sudah tidak punya waktu lagi. Sang ayah berjalan di sampingnya sambil mempersiapkan jaket-jaket anaknya yang dibawanya. Untung si anak tadi masih sempat mendengar teriakan ibunya, dia kembali ke tempat keluarganya berkumpul dan kemudian memakai jaketnya dibantu oleh ayahnya.
Kenyataan di atas membuatku melihat bagaimana penduduk asli negeri ini dan negara eropa lainnya menyadari perlunya anak-anak kecil dibawa ke tempat-tempat yang mendidik selama liburan sekolah ini.
Sains, menarikkah?
Kalau saya ditanya mengapa saya tertarik pada sains, mungkin karena latar belakang keluargaku yang bergerak di bidang sains; bapakku seorang apoteker dan ibuku (alm) seorang guru matematika. Tapi tidak cukup seperti itu, kadang ibu memperingatkan saya tentang hukum fisika saat melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk saat memasak. Ibu akan marah bila saya membuka-buka tutup panci berisi sayur yang sedang dimasak, dan menerangkan bagaimana panas yang terkumpul selama memasak dengan panci tertutup akan hilang dan tekanan dalam panci juga akan berkurang. Akibatnya sayur dalam panci tidak akan cepat masak, dan ini berakibat juga minyak tanah dalam kompor akan cepat habis terbakar. Atau kegilaan kakak-kakak laki2 saya pada elektronika, sehingga mereka diberi kebebasan untuk bereksperimen merakit sound system sendiri. Tapi akhirnya hasil experimen adalah kotak speaker yang sudah dijebol bagian belakangnya dan kabel yang melilit ke mana-mana tidak karuan.
Banyak yang dapat dilakukan orangtua untuk mengenalkan dan mencintai sains sejak dini. Bagi yang berlatar belakang sains, mungkin mudah bagi mereka untuk menerangkan hal2 sederhana yang terjadi sehari-hari. Tapi bagi yang sebagian orangtua yang merasa tidak tertarik pada sains, mereka dapat membawa anak-anaknya pada pameran2 atau museum yang sangat banyak tersedia di negara2 maju.
Saya pernah menjadi volunter dari acara pengenalan sains bagi anak-anak yang diselenggarakan oleh University of Cambridge, yaitu "Crash, Bang, Squelch!" (dari judulnya menggambarkan suara2 yang timbul dari anak2 beraktivitas sampai berlepotan baju dan wajahnya tanpa rasa khawatir dari orangtua).
Dengan berbekal bahasa Inggris yang masih pas-pasan, saya menerangkan bagian "See the picture of sound" menggunakan osiloskop. Anak-anak gembira suaranya menghasilkan gelombang pada layar osiloskop, atau melihat xilephone yang dipukul pada nada dasar tertentu dan kemudian di layar osiloskop akan tampak gambar gelombangnya. Ada juga terompet yang harus ditiup dengan cara tertentu dan karena susahnya akhirnya terompet itu penuh dengan air ludah anak-anak yang justru meludah bukan meniup.
Peristiwa menarik yang saya temui, ada orangtua yang membawa anaknya yang baru berumur kurang dari setahun. Saya dengan cueknya menyuruh anak itu ngomong di depan microphone supaya ada gelombang. Ternyata anak itu belum bisa ngomong jadi ditunggu sampai besokpun nggak ada gelombang yang tergambar. Dari situ saya melihat semangat orangtua untuk mendekatkan anak pada dunia sains walaupun anaknya masih belum mengerti. Tapi saya yakin akan melihat banyak anak-anak yang terkagum-kagum pada sesuatu yang belum mereka mengerti dan perasaan kagum itu bisa membuat mereka terinspirasi walaupun masih berupa imajinasi anak-anak.
Jadi saya sarankan pada teman-teman yang tinggal di negara-negara maju yang memiliki Science Museum, jangan sia-siakan kesempatan untuk menginspirasi anak-anak kalian dengan sains, dan caranya sangat mudah yaitu mendatangi tempat-tempat tersebut. Tidak hanya anak-anak, tidak ketinggalan orangtua pun akan tertarik melihat keindahan ilmu pengetahuan. Biarkan pengalaman di sains museum itu menari-nari dalam imajinasi anak-anak anda sehingga mereka bisa memanfaatkan imajinasi masa kecil untuk menentukan langkah hidupnya kelak.
If you happen to hear the number one UK Singles Chart, James Blunt' s "You're beautiful", you'll find the song tells a story about a very short scene happened to a bloke which last about few minutes but the effect on him may last forever. A man was stricken by a beautiful angel who smiled on him when they walked in a subway. In UK, a subway is an underground path used by people to cross a busy road or traffic junction. In London occationally subways are connected to an entrance of an underground train station, or we call it tube station. In some other countries, subways mean underground trains. It's a bit confusing but you're not supposed to mix between two when you're in London 'cause I've told you so!
The song is a simple one. One thing that I found interesting is the hopeless feeling of this bloke because he can only enjoy the moment without any further future knowing that the angel was with a man, presumably her boyfriend or husband. I could imagine a contrary story might happen if you see a hollywood movie when a man will after a girl with whom he has a crush on, no matter she is single or not. But I prefer the story in the song, it's more real for me and makes me understand that sometimes moral values of this western country are not very different from my south eastern country, Indonesia. But of course, in my culture, you'll find that it is not polite to stare at a girl without blinking, and the girl will either also smile because the man looks foolish in his unconsciousness or, in contrast, feel offended.
To find the video clip of this single is in the below link: http://www.virgin.net/music/musicvideos/jamesblunt_yourebeautiful_hi.html
And the lyrics are below.
You're beautiful
My life is brilliant.
My love is pure.
I saw an angel.
Of that I'm sure.
She smiled at me on the subway.
She was with another man.
But I won't lose no sleep on that,
'Cause I've got a plan.
You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
I saw your face in a crowded place,
And I don't know what to do,
'Cause I'll never be with you.
Yeah, she caught my eye,
As we walked on by.
She could see from my face that I was,
Fucking high,
And I don't think that I'll see her again,
But we shared a moment that will last till the end.
You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
I saw your face in a crowded place,
And I don't know what to do,
'Cause I'll never be with you.
You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it's time to face the truth,
I will never be with you.